Kamis, 29 Januari 2009

Gagal Saat POST Test ServeRAID-5i Pada Server IBM eServer xSeries 225

Kemarin, rencananya saya ingin cek komputer yang kata kawan saya bervirus. Ia mengeluh setiap membuat file autorun pasti tidak berhasil, dan dugaannya karena ada virus pada PC tersebut. Dari rumah saya sudah membawa beberapa amunisi untuk tujuan itu, well prepared lah. Namun ternyata kesibukannya membuatnya lupa akan keluhannya, dan ia terus bekerja. Otomatis saya urung melihat komputernya.

Melihat saya nganggur begitu, bos saya langsung 'memberi pekerjaan', hehe. Katanya server lama sekarang sudah tidak bisa dipakai lagi. Ternyata kami mendapat dropping server lagi dari pusat, masih menggunakan IBM. Katanya, sejak gempa (berarti tidak lama setelah saya tugas belajar) server tidak dapat hidup lagi. Wah, sia-sia dong upgrade kemarin. Lantas mau diapakan memori 2Gb dan harddisk 300 giga lebih?

Sebelumnya, bos saya dapat kabar bahwa di propinsi lain ada juga yang servernya rusak. Dan saat perlu penggantian komponen, biayanya sekitar 6 juta rupiah. Bos saya bingung juga membayangkan seandainya kasusnya sama dengan disini ("duit dari Hongkong?"). Kawan saya memberi informasi bahwa itu hanya karena harddisknya yang kendor. Jika dipasang agak dipaksa (sampai bunyi -JEGREK!-, begitu) katanya normal seperti biasa. Well, informasi tambahan untuk troubleshooting nih.

Saya nyalakan, memang benar server tidak bisa berfungsi. Masih dapat booting, namun selalu gagal saat POST test. Server kami adalah IBM, tepatnya model eServer xSeries 225. Dulu, biasanya server selalu dalam keadaan terkunci. Untungnya, pengunci pada server dulu sudah saya buka sebelum berangkat. Kalau tidak, wah terbayang deh pasti harus merusak casing untuk bisa utak-atik komponen.

So, berdasarkan informasi awal dari teman saya tadi saya troubleshooting berbasiskan harddisk. Terlalu panjang untuk diceritakan, yang pasti tidak sampai bunyi JEGREK!!! Hehe. Herannya, setelah berulangkali tetap saja selalu keluar pesan yang sama seperti tadi. Pesannya selalu
menunjuk pada ServeRAID Slot 4 yang error. Ini melunturkan cerita kawan saya tadi, dan saya justru mulai curiga pada Controller.

Dan akhirnya saya mempunyai dugaan baru, bukan tidak mungkin error yang dicari-cari adalah pada ServeRAID-5i Controller. Dipersempit lagi, dugaan saya bisa karena petir, listrik statis, atau karena salah posisi. Well, mungkin saja. Bengkulu (sebagian besar) adalah daerah pesisir pantai, bahkan bentuk propinsinya pun memanjang di sepanjang pantai. Disini, gempa adalah hal yang lumrah. Demikian juga dengan hujan badai, anginnya, petirnya, cukup beresiko.

Satu hal yang pasti, kalau memang karena petir ya pasrah sajalah. Pasti ganti komponen...

Setelah beberapa kali troubleshooting, termasuk discharge listrik statis yang mungkin ada, akhirnya cerita ini berakhir dengan bahagia. Server bisa berfungsi lagi, tampilan desktopnya bahkan sama persis seperti saat saya tinggalkan (jangan-jangan tidak pernah dipakai, hehe). Bukan apa-apa, masalahnya data-data banyak saya simpan disana (dan pada harddisk eksternal, namun hilang dicuri orang). Apalagi fasilitas redundant seingat saya tidak digunakan, supaya kapasitas harddisk menjadi besar.

Nampaknya benar dugaan saya, karena listrik statis DAN gempa...

Selasa, 27 Januari 2009

Utak-Atik Setting (Sederhana) DWL-G700AP

Saat ini saya sedang berada di Bengkulu, di rumah bersama istri tercinta dan buah hati tersayang. Karena terbiasa menjalani tugas belajar, waktu yang ada kini terasa sangat berharga untuk dihabiskan bersama keluarga. Liburan yang lumayan lama, tiga minggu, membuat saya (dan teman-teman) tak perlu berpikir panjang untuk pulang kampung. Memang kebersamaan
adalah sesuatu yang tak ternilai harganya, meskipun terkadang merepotkan. Seperti sekarang, baru saja saya selesai memasang tombol [Shift] saya yang mental gara-gara direcoki buah hati tersayang. Asal jangan sampai mematikan kreativitas anak.

Dengan intro seperti itu, jangan bayangkan selama liburan saya menikmati bercengkrama dengan keluarga dirumah setiap saat. Selama liburan ini, saya justru... ikut ngantor. Maklum, jarak rumah ke kantor tidak terlampau jauh. Lagipula, selama istri kerja maka anak saya dititipkan ke tetangga. Jadi mau apa saya dirumah sendiri saja? Selama beberapa hari dicoba 'ngendon' dirumah, toh lebih banyak waktu bengongnya.

Kembali ke kantor, maka kembali utak-atik masalah komputer, jaringan, dan sebagainya. Setting printer, scan virus, program publikasi elektronik, termasuk wireless. Ya, kantor saya baru saja instalasi VPN, dan kemudian ada inisiatif untuk instalasi Wireless LAN. Well, soal scan
virus saya masih berhutang pada teman nih. Ada satu komputer yang tidak mempan menggunakan PCMAV, tapi lebih lanjutnya nanti saja.

Saat saya kesana, instalasi sudah selesai secara fisik, semua sudah terpasang secara rapi dan profesional oleh kedua kawan saya (mas Ari dan Tama). Anyway, saat diutak-atik ternyata setting yang digunakan adalah default bawaan. Access Point menggunakan D-Link DWL-G700AP. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kondisi ini, hanya saja settingan bawaan
adalah settingan yang 'cari aman' sehingga tidak mengoptimalkan bandwith maupun kapasitas jaringan.

So, setelah beberapa kali reset dan setelah beberapa kali utak atik bersama mas Ari, akhirnya AP dipecah menjadi dua Wireless Network (kenapa tidak menggunakan modus repeater? Atau, kenapa tidak mengaktifkan fasilitas roaming? Yah, singkatnya... sepakatnya begitu). Untuk memudahkan, IP AP diganti ke Network Class yang sesuai dengan jaringan. Wizard yang ada sudah sangat membantu mempersingkat waktu setting.

Basically, stepnya simpel saja:

  1. Setting IP default DWL-G700AP adalah 192.168.0.50, maka IP komputer harus dirubah dalam satu Class (IP 192.168.0.x dan Netmask 255.255.255.0).
  2. Browsing ke http://192.168.0.50/ dan login sebagai admin.
  3. Gunakan Wizard untuk setting password (menurut saya sih, tidak perlu), SSID, enkripsi, dan Channel yang digunakan (bisa auto, tapi saya lebih percaya manual).
  4. Kemudian manual setting parameter LANnya (IP, Netmask, Gateway, dan DNS). Jika perlu, sekalian setting DHCP Server (saya lebih suka static).
  5. Setelah inisiasi ulang (otomatis) maka AP sudah disetting.

Pengalaman saya sih, ada beberapa yang perlu diperhatikan. Pertama, saat akan reset AP tekan tombol reset kurang lebih 30 detik (sepuluh detik ternyata terkadang belum cukup), apalagi jika baru pertama kali reset. Jangan remehkan masalah reset, hehe, saya sempat juga mengalami trouble saat reset Access Point D-Link DWL-G700AP tersebut. Kemudian sepertinya lebih bijaksana jika setting AP menggunakan kabel jaringan langsung dari laptop/PC kita. Sometimes, jika lewat wireless updating terkadang gagal. Ini terutama saat kita mengganti IP AP. Satu lagi, perhatikan guideline saat memilih channel.

Anyway, saat dipasang oleh kawan saya, karena satu dan lain hal salah satu AP direset kembali. Sepertinya masalahnya adalah crimping yang tidak sempurna, maka sedang dicarikan kabel kembali (lumayan panjang juga, sekitar 20 meter). Karena tempat, maka saya setting via wireless. Jalan juga sih, tapi saya agak curiga dengan setting IPnya karena hanya via wireless. Yah, semoga saja tidak menjadi masalah.

Tinggal scan virus nih besok…

Senin, 19 Januari 2009

Plurk dan Kronologger, Sebuah Fenomena Marketing

Saat ini, selain blog (Blogger, Wordpress, dsb), Friendster dan Facebook, ada satu lagi fenomena yang mulai meluas di dunia maya. Plurk.com, sebuah situs yang berbasiskan sebuah komunitas mulai mendapatkan tempat di hati para netter di seluruh dunia. Termasuk saya sendiri, yang sekarang sudah menjadi salah satu anggota Plurk.

Tidak seperti Friendster, atau Facebook, pada Plurk sesungguhnya layanan yang ditawarkan sungguh jauh lebih simpel. Pada Friendster atau Facebook, kita membentuk komunitas yang umumnya berisi teman-teman kita (atau setidaknya sekarang menjadi teman kita). Dalam penggunaannya, kita dapat kustomisasi dengan berbagai macam pernak-pernik layaknya menghias sebuah web. Banyak fasilitas yang disediakan untuk kustomisasi.

Pada Plurk, kita masih berbasiskan komunitas, namun dengan format yang lebih simpel. Kita cukup mengetikkan kalimat-kalimat yang menggambarkan kondisi 'terkini' kita. Kustomisasi yang ada otomatis lebih terbatas, namun kita dapat menyisipkan Plurk kita ke halaman web lainnya.

Bagi yang 'cinta produk dalam negeri' pasti sudah pernah tahu tentang layanan Kronologger. Sebetulnya Kronologger dan Plurk mempunyai ide yang sama persis, bahkan kalau tidak salah Kronologger justru ada terlebih dahulu dengan nama Kronologis. Namun gaung Kronologger dan Plurk jelas berbeda, dan ini dikarenakan faktor marketing semata.

Pada Plurk maupun Kronologger, kita sebetulnya hanya mengupdate status terkini kita berupa satu (atau dua, jika perlu) kalimat yang representatif. Kemudian setelah beberapa lama kita akan mempunyai beberapa posting yang tersusun berdasarkan waktu. Susunan berdasarkan
waktu ini mirip seperti kronologis suatu kejadian (mengerti kan, darimana asal nama Kronologger?). Pada akhirnya kita dapat menyisipkan Plurk atau Kronologger kita ke halaman web lainnya.

Ini membuktikan bahwa faktor marketing tidak bisa dianggap remeh. Sebagus apapun, pasti masih kalah dibandingkan dengan yang menggunakan teknik marketing yang matang.

Rasanya kok.. mirip pilkada kita ya?

Minggu, 04 Januari 2009

Antara Ujian, Belajar, dan OFAT

Besok adalah hari pertama Ujian Akhir Semester (UAS). Biasa, sejak jadi mahasiswa (lagi) kami semua jadi akrab (lagi) dengan yang namanya kalender akademik. Dan kebetulan materi ujian perdana besok adalah Rancangan Percobaan, yang sering disingkat kawan-kawan menjadi RanCob. Kebetulan tadi siang sudah cukup istirahat siang (walaupun tidak sebanyak teman sekamar saya, hehe) maka malam ini mata masih terbuka lebar-lebar sambil melihat teman sekamar tidur dengan nikmatnya. Terlebih sudah mendapat tambahan semangat dari istri dan anak di rumah. Koneksi 3G cukup mengobati rasa kangen walaupun belum menyembuhkan.

So, waktu yang ada saya manfaatkan untuk membaca-baca kembali tugas yang pernah diberikan oleh dosen saya (Drs. Kresnayana Yahya, MSc). Untuk membaca buku, rasanya hanya menjadi selingan saja, karena terlalu singkat waktu yang saya punyai saat ini. Plus, membaca-baca materi yang sudah didownload dari internet (kebetulan ada materi RanCob yang berbahasa Indonesia yang diupload oleh pengajar di universitas lain). Dan, saat suntuk datang seperti sekarang ini, saatnya nge-Blog!

Sambil membaca-baca dan melihat kawan-kawan belajar, saya tiba-tiba ingat akan penjelasan dosen saya mengenai OFAT. Mereka-mereka yang belajar sambil mempraktekkan OFAT, dan persis seperti apa yang dikatakan oleh dosen saya.

"OFAT, One-Factor-at-A-Time artinya dalam melakukan percobaan kita hanya mengamati pengaruh dari satu faktor saja. Kita mengabaikan faktor-faktor lain yang mungkin sebenarnya berpengaruh juga terhadap percobaan kita. Yang lebih berbahaya sesungguhnya karena kita tidak dapat memasukkan efek interaksi dalam percobaan kita. Padahal dalam kehidupan nyata, tidak mungkin OFAT itu terjadi. Kalaupun ada, ya sangat kecil. Dan mungkin saja kita memperoleh kesimpulan yang berbeda, yang justru menyesatkan. Ini bukan hanya dalam percobaan saja, dalam perilaku juga terkadang masih seperti itu."

Dalam menghadapi suatu ujian, untuk menghasilkan ujian yang sukses sebagai respon bergantung pada banyak faktor. Jika kita lihat lebih spesifik pada faktor yang berasal dari dalam diri, maka mungkin ada beberapa faktor (menurut saya!) yang mempengaruhi. Pertama, jelas sekali faktor penguasaan mata pelajaran. Kemudian ada faktor lain seperti IQ, kondisi tubuh, kondisi pikiran, dan mungkin masih ada faktor lain yang berpengaruh. Mengikuti ujian dengan sukses adalah merupakan kombinasi yang baik dari semua faktor tersebut, dimana masing-masing faktor tidak harus maksimal. Yang diperlukan adalah kombinasi terbaik dari semua faktor, sehingga menghasilkan respon surface yang baik pula, dan dapat kita raih puncaknya.

Jadi, sebenarnya teman saya yang tertidur dengan sedemikian nikmatnya juga berperan menjaga kondisi tubuhnya agar jangan sampai drop. Video Call saya dengan istri dan anak saya tadi sore juga merupakan usaha saya untuk menjaga kondisi pikiran agar rileks dan tidak terlalu terbebani. Kalau faktor IQ, yah.. masing-masing bisa mengukur sendiri lah. Dan faktor utama adalah penguasaan mata pelajaran yang dicapai dengan cara belajar, namun jangan sampai mengorbankan faktor lainnya. Belajar sampai optimal, itu adalah strategi terbaik daripada belajar sampai maksimal (dan mengorbankan lainnya, misalkan kondisi tubuh). Penganut OFAT akan mengagungkan faktor penguasaan mata pelajaran, dan akibatnya hanya mengejar faktor itu saja tanpa memperhitungkan faktor lain. Akibatnya justru respon yang diperoleh tidaklah seperti yang diharapkan.

Lha, sampai saat ini saja saya masih terjaga. Berarti saya OFAT dong?

Kebanyakan tidur sih tadi siang..

Kamis, 25 Desember 2008

Memanipulasi E(x) Lewat Sinetron

Melihat sinetron-sinetron televisi Indonesia saat ini, saya benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana mungkin para penonton Indonesia yang katanya semakin cerdas itu, menonton sinetron-sinetron yang bermetamorfosa dari satu judul ke judul lain. Dengan bermacam konflik yang dibuat-buat, juga jalan cerita yang sesungguhnya dapat ditarik tambang merah (terlalu nyata untuk disebut sebagai benang merah) dari semua judul-judul itu. Bagaimana tidak, terkadang selain dari sisi cerita hampir sama, juga para pemainnya pun masih menggunakan muka-muka yang itu-itu saja. Perbedaan yang ada sangatlah remeh, misalnya tokoh utamanya dari semula berjualan koran, dalam cerita lain berjualan somay.

Hal tersebut masih diperparah dengan kebiasaan 'khas' Indonesia (apa iya?) yang latah dan suka aji mumpung. Latah, karena semua menawarkan sesuatu yang 'tiru-tiru' dari kesuksesan pihak lain. Lihat saja, saat 'musim'-nya maka semua sinetron diawali dengan kata Cinta, Cinta F****, Cinta B****, atau entah mungkin juga ada Cinta Bejo dan Cinta Paijo? Begitu juga saat musimnya adalah menggunakan nama tokohnya, maka semua judulnya menggunakan nama tokoh utama, mungkin ada sinetron berjudul 'Paimin' dan 'Paijo'?

Jika satu sinetron sudah dianggap 'sukses', maka diperpanjanglah sinetron tersebut dengan berbagai cara. Dibuatlah konflik-konflik benang kusut, jika perlu dibuat sinetron berseri, seri 1, seri 2, dan seterusnya. Yang lebih tidak tahu malu adalah sinetron-sinetron 'ramadhan' yang bahkan tak kunjung habis meskipun sudah hampir memasuki tahun baru. Jika diperhatikan, konflik yang 'dipaksakan' pun sebenarnya itu-itu saja. Orang kaya yang mencintai orang miskin, orang miskin yang ternyata anak orang kaya, perebutan harta kekuasaan, pokoknya mirip-mirip seperti itu.

Sinetron Indonesia jelas tidak menganut konsep random, atau setidaknya semua materi mempunyai kesempatan yang sama untuk tampil. Sinetron Indonesia juga tidak menganut konsep distribusi normal, dimana masalah yang paling rumit ditampilkan sedikit dan masalah-masalah biasa ditampilkan lebih besar porsinya. Bukan, bukan itu. Sinetron Indonesia (mungkin) menganut konsep terboboti (weighted). Semakin besar efeknya terhadap rating, maka akan semakin sering porsinya muncul di televisi.

Inilah sebabnya maka kita dapat memanipulasi E(x) lewat sinetron.

Dalam dunia statistika, kita mengenal konsep expectation value. Expectation value sering diterjemahkan sebagai nilai harapan, dan dituliskan sebagai E(x). Sesuai namanya, nilai harapan adalah menggambarkan harapan nilai yang dicapai dari sesuatu. Misalkan kita mempunyai distribusi binomial, dimana peluang suatu kejadian terjadi adalah sebesar p=0,4, dan binomial ini ada sebanyak n=30. Statistikawan mengerti jika rata-ratanya adalah sama dengan nilai harapannya, dimana untuk kasus ini adalah sebesar n kali p, tepatnya sebanyak 12. Ini berarti 12 dari 30 akan mengalami suatu kejadian, atau 2 dari 5 (mirip iklan bukan?). Jangan lupa, statistika mengagungkan konsep random serta distribusi normal.

Katakanlah kita definisikan x adalah jumlah wanita yang hamil di luar nikah, p adalah peluang wanita (belum menikah) untuk hamil diluar nikah, dan n adalah populasi wanita (belum menikah). Secara pasti kita tidak tahu, berapa jumlah x. Bahkan lewat sensus penduduk pun tidak mungkin (tanya kenapa?). Namun kita dapat memperkirakan dengan menggunakan E(x). Ini benar secara teori statistik. Namun sayangnya Indonesia mempunyai jauh lebih banyak penonton sinetron daripada statistisi.

Sinetron mengeksploitasi masalah/konflik rumit diberikan porsi maksimal, sehingga seolah-olah pemeran utama selalu ditimpa masalah pelik. Wajar saja, karena sinetron tidak menganut distribusi normal. Sinetron juga memblow-up masalah-masalah yang (kira-kira) menaikkan rating saja, bukan lagi random. Wanita hamil di luar nikah, ternyata adalah salah satu hal yang bisa menaikkan rating. Maka skenario tersebut kini sudah lumrah digunakan di sinetron Indonesia.

Dengan dihantam sinetron bertubi-tubi, maka bukan tidak mungkin akan muncul anggapan bahwa hamil di luar nikah sekarang adalah hal biasa. Atau dengan istilah lain, jika dulu hamil di luar nikah adalah kejadian tabu (sehingga nilai p kecil), maka sekarang hamil di luar nikah adalah biasa (nilai p sekarang lebih besar). Maka seolah-olah persepsi yang terbentuk yakni E(x) sekarang lebih besar daripada E(x) dulu. Ini hanya persepsi, sehingga belum tentu benar. Namun yakinlah E(x) mendatang pasti akan lebih besar, karena persepsi menipu tadi akan menjadikan kasus hamil di luar nikah menjadi hal yang tidak terlalu menyeramkan lagi.

Hamil di luar nikah, siapa takut? (kurang lebih, begitu..)

Mau...?

Senin, 22 Desember 2008

Wedang Ronde is a Mixture Design

Hari Sabtu kemarin, saya tiba di Banjarnegara. Tiba di alun-alun kota, waktu sudah menunjukkan pukul 18.30. Maka saya menuju ke masjid agung untuk sholat maghrib. Masjid agung ini berada tepat di samping alun-alun.

Setelah sholat maghrib, saya segera menelpon istri tercinta. Kerinduan bertemu selama ini hanya dapat tertumpahkan oleh komunikasi suara via handphone saja. Itu pun kalau tidak sedang diganggu oleh buruknya layanan provider kartu yang kami pergunakan. Layanan yang cenderung menurun, tidak begitu jelas dan tidak begitu nyata. Untunglah provider sedang baik hati malam ini.

Setelah menelpon istri, saya menelpon kakak ipar supaya saya dijemput, karena tidak ada lagi angkutan ke rumah pada jam tersebut. Setelah memberitahu posisi, saya segera menuju seorang penjual wedang ronde untuk membunuh waktu. Gerobak dorongnya diparkir di pinggiran alun-alun, dan digelar tikar untuk para pelanggan menikmati wedang rondenya. Sambil memesan satu mangkuk wedang ronde, saya mengajak penjual wedang itu mengobrol.

Penjualnya masih muda, kira-kira berumur 28 tahunan. Ternyata dulunya ia adalah seorang buruh pabrik di Tangerang. Setelah pabrik tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan, ia menganggur tanpa ada pekerjaan lantas pulang ke kampungnya disini. Atas bantuan temannya, ia diajari cara-cara membuat wedang ronde dan mulai berjualan setengah tahun yang lalu. Saya senang melihat semangatnya menghadapi hidup setelah menganggur.

Sekian lama mengobrol, wedang ronde saya sudah habis sedari tadi. Namun entah mengapa tanda-tanda sang penjemput tak kunjung datang. Maka jadilah satu mangkuk lagi siap saya nikmati. Meski pelanggan sudah mulai ramai, anggap saja sekalian membantu mas penjual ronde.

Sambil menikmati wedang ronde kedua, saya teringat konsep mixture design yang baru saja dijadikan bahan tugas oleh dosen saya. Rasa wedang ronde kedua ini agak sedikit berbeda dari yang pertama tadi. Seperti layaknya mixture design, sang penjual sesungguhnya telah menemukan suatu mixture yang khas, mixture yang memberikan rasa enak yang optimal.

Bahannya hanya kacang, hanya agar-agar, hanya roti tawar biasa, hanya air jahe dan gula saja, dengan dua buah ronde (ronde adalah bulatan yang terbuat dari tepung ketan dan diisi semacam tumbukan kacang). Namun sang penjual dibatasi pada ukuran mangkok yang terbatas, dan tentu saja pada biaya produksi per mangkoknya. Jika ia memutuskan untuk menambah roti tawar dalam wedang rondenya, maka bahan lain pasti akan berkurang.

Meski hanya dibuat dari bahan-bahan sederhana, namun dengan mixture yang tepat akan menghasilkan efek yang luar biasa. Interaksi berbagai faktor yang terlibat didalamnya mampu melipatgandakan efek 'enak' menjadi luar biasa. Namun bukan hanya faktor dari wedang rodenya saja, melainkan faktor lain seperti waktu jualannya juga turut mempengaruhi.

Sang penjual telah berhasil menemukan mixture yang tepat bagi kelancaran usahanya mencari rezeki yang halal dari Allah. Meski tidak pula tepat 100%, terbukti rasa wedang ronde saya masih ada sedikit perbedaan (saya agak sensitif merasakan efek jahe), namun kesemuanya masih berada didalam sebuah confidence interval yang masih bisa diterima.

Beliau tidak perlu belajar statistik, juga tidak perlu belajar matematik. Namun sesungguhnya beliau sudah menerapkan konsep tersebut dalam keseharian. Konsep inilah yang sesungguhnya hilang digerus dunia pendidikan. Tidak sedikit lulusan jurusan statistik yang pandai berhitung, namun kurang memahami konseptual secara baik. Akhirnya mereka mengalami kesulitan menghubungkan keilmuan dan dunia nyata.

Ah, kedua mixture saya sudah habis. Saatnya untuk pulang..

Seorang Ibu, dan Kisahnya Sepanjang Kereta

Liburan minggu tenang kali ini saya rencanakan untuk mudik-mudikan berkeliling singkat. Rutenya Surabaya - Banjarnegara (tempat mertua) - Boyolali (tempat eyang putri) - Ngawi (tempat orang tua) - Surabaya. Rute pertama, dari Surabaya ke Banjarnegara. Terbayang beberapa alternatif perjalanan yang bisa saya tempuh. Saya bisa naik bis lewat Bawen sampai Banjarnegara, bisa naik travel (kalau kepepet), bisa naik bis lewat Jogja dulu, bisa naik kereta lewat Purwokerto, hmm.. pokoknya banyak jalan. Tapi akhirnya saya memilih untuk naik kereta jurusan Bandung, turun di Gombong, ke Purwokerto, baru ke Banjarnegara, bersama teman-teman.

Jujur saja, memang waktu perjalanan saya menjadi lebih panjang. Tapi dasar pribadi sentimentil, saya menikmati kebersamaan bersama kawan-kawan selama perjalanan. Di sana saya benar-benar merasakan makna sebuah persahabatan. Singkat memang, namun kenangan bersama ini yang menurut saya adalah sesuatu yang istimewa. Mungkin sekarang kita tidak akan bisa menilainya, apalagi merasakannya. Namun kelak, suatu saat ketika waktu sudah berlari sedemikian cepatnya, kenangan akan menjadi sesuatu yang sangat tidak ternilai harganya. Itu pula sebabnya saya jarang menolak jika diajak bepergian bersama teman-teman, dengan syarat tidak malah merepotkan saya sendiri (misalnya sampai ditempat sendiri terlalu malam, dan sudah tidak ada lagi angkutan). Selain itu, dalam perjalanan, biasanya masing-masing individu mulai terlihat sifat-sifat aslinya. Di sanalah kita bisa melihat apakah seseorang benar-benar layak untuk kita sebut 'sahabat'.

Biasanya sih, selama perjalanan dengan transportasi umum seringkali waktu saya lebih lama untuk tidur daripada terjaga. Namun tidak kali ini. Kami berangkat dari Stasiun Gubeng pada pagi hari, kira-kira pukul enam pagi. Diatas kereta kebetulan kami mendapatkan tempat duduk di depan seorang ibu-ibu. Ibu inilah yang merubah pakem perjalanan saya kali ini. Sebuah pribadi yang unik, walaupun agak ngaco dan sedikit error. Heh heh.

Ibu ini punya banyak sekali cerita. Sepanjang jalan, dari bibirnya terus mengalir topik-topik pembicaraan yang entah dari mana asalnya tidak ada habisnya. Jika boleh dibuatkan Pie Chart, saya yakin 75%-85% adalah pada porsi beliau, baru sisanya diisi oleh kami. Ada saja ceritanya, mulai dari Roy Marten, pekerjaannya dari BKKBN, BDNI, sampai ke masalah jodoh digulirkan sepanjang jalan.

Rupanya ibu ini mempunyai orangtua 'gado-gado'. Ayah muslim dan ibu katolik. Bahkan saudaranya pun ada yang muslim, meski beliau sendiri penganut katolik. Ibu ini pun punya hobi yang tergolong nyeleneh untuk ibu-ibu, apalagi yang seusia beliau (beliau mengaku berusia lebih dari 50 tahun). Hobinya adalah jalan-jalan ke luar kota. Aneh memang, tapi dari hobi jalan-jalannya tersebut banyak cerita yang bisa digulirkannya sepanjang perjalanan di dalam kereta.

Saya sendiri, belum banyak kisah yang dapat saya ceritakan. Belum banyak tempat yang sudah saya kunjungi. Belum banyak pengalaman yang sudah saya alami. Belum ada apa-apanya pengalaman saya dalam kehidupan ini. Ibu ini, ibu Yuni (atau Yeni, saya lupa, yang saya ingat jelas suaminya bernama Hendrik) seolah mengingatkan saya bahwa hidup jangan hanya diisi dengan rutinitas membosankan semata. Hidup adalah karunia yang harus disyukuri, namun dengan tetap mengingat kematian (istilah beliau, rumah masa depan), agar kita tidak larut dalam godaan-godaan kehidupan.

Hidup adalah pengalaman satu kali (kecuali bagi yang mempercayai adanya reinkarnasi) yang harusnya diisi dengan beragam cerita. Hidup ini tidak harus mendatar seperti layaknya distribusi uniform, ia harus diisi dengan variasi-variasi yang menarik. Jadikan hidup menjadi sebuah time series yang mempunyai variasi seasonal, namun pastikan kurvanya mempunyai kemiringan yang positif. Jangan jadikan hidup menjadi sebuah regresi linear dengan kemiringan positif.

Hingga saat beliau turun di kota Solo, tidak ada lagi yang sedemikian semangat bercerita. Akhirnya kami berempat berkumpul satu kereta berhadapan, dan perbincangan antar sahabat kembali dimulai.

Perjalanan kali ini..