Mulai minggu lalu, saya merasa agak sedikit aneh kalau menelan makanan.
Apa saya sudah tidak cocok lagi makan nasi ya? Mungkin seharusnya
sekarang saya makan roti, pizza, dan bukan nasi, apalagi thiwul atau
gaplek. Hare gene makan gaplek? Beibeh! (becanda koq)
Lantas pada suatu ketika, tepatnya kemarin lusa sih... Pagi-pagi badan terasa
nggak gurih, nggak enak gitu. Bangun agak kurang pagi sedikit. Waduh
biyung! Kan upacara.. "Rasanya kasur kok nyaman sekali ya, baru kali ini
kasur terasa nyamaan sekali." Apa boleh berbuat, rasanya tidak bisa
untuk upacara. Oh yes, maksudnya, oh no gitu.
Berbekal hp, walaupun belum triji, dikirim sms untuk atasan bahwa saya
tidak dapat masuk karena sakit.
Masalahnya, "sakit apa?"
Dugaan pertama sih karena kecapekan, jadi agak diporsir sedikit
..istirahatnya. Kemudian biar segar, beli Nata de Coco dan masukkan
kulkas. Wah! "Hmm pasti segar.. gar.. gar.. rasanya meminum Nata de Coco
dingin campur es"
Eh, iya. Kan ada yang bengkak ya di bawah rahang? Jangan-jangan
gondongan, aduh gimana ya? Kok jadi agak sakit pas dipegang? Oh no.
Singkat cerita, sorenya saya ke dokter. Siapa tahu sakit karena jablai
ditinggal istri. Ketemu teman pula.
"Gus, lagi apa Gus? Sakit ya?"
Nggak, lagi beli cendol. Ya iyalah, sakit. Hehe, biasa, orang sakit kan
ga mood. Mana ngantrinya lama. Kalau sambil makan bakso, mungkin sudah
satu gerobak saya habiskan.
Periksa dikit. Nyuk.. nyuk.. "Buka mulutnya mas, julurkan lidah"
Wleek, dokter. Wleek.
"Wah, bener nih mas"
Gondongan?
"Ini radang mas. Amandelnya"
Alhamdulillah.. ternyata bukan gondongan. Lega rasanya mendengarnya,
tapi agak sedikit heran juga. Mengapa bisa radang, padahal belum pernah
ada sejarah amandel di diri saya? Dokter pun menjelaskan bahwa mungkin
karena cuaca yang sedang di musim pancaroba, jika sedang panas menjadi
panas sekali. Diberikan resep dan diberi pesan.
"Jangan makan yang banyak penyedap, dan yang dingin-dingin"
Lho? Terus Nata de Coco yang kubeli tadi?


0 komentar:
Poskan Komentar