Kemarin, tetangga sebelah rumah saya meminjamkan VCD film Nagabonar Jadi
2 kepada saya. Tak usah ditanya lagi, saya sudah bisa mengenali kalau
ini adalah VCD bajakan, meskipun gambarnya sangat bagus. Sebenarnya saya
tak ada waktu lagi untuk sekedar menonton film, maklumlah kesibukan
kerja akhir-akhir ini membuat waktu seolah menjadi sangat singkat, namun
saya kemudian menontonnya sambil makan dan aktivitas-aktivitas lain
bersama istri dan adik ipar saya.
Filmnya sendiri saya rasa cukup bagus, dan nuansa Nasionalismenya sangat
terasa. Saya cukup terpesona dengan panorama kebun sawit milik
Nagabonar, yang disorot dari atas bukit tempat makam MAK Nagabonar,
istrinya Kirana, dan sahabatnya Bujang. Pemandangan hijau nan teratur
dan luar biasa luasnya, terbentang sebagai latar belakang adegan dimana
Nagabonar seolah berbicara dengan mereka (berikutnya juga ada adegan
Bonaga, anak Nagabonar, menyampaikan pesan ayahnya).
Cuma ada satu adegan yang kurang sreg di hati saya, yaitu saat terakhir
Bonaga harus menandatangani kontrak kerjasama dengan pihak Jepang.
Disana digambarkan bahwa saat akan menandatangani kontrak, Bonaga yang
sedang bimbang lalu mendapat informasi bahwa ayahnya dalam kondisi yang
kurang baik. Akhirnya Bonaga membatalkan kontrak tersebut seraya
membuang surat-surat kontraknya ke udara.
Dari sudut pandang saya, penggambarannya terlalu over. Maksud saya,
mengapa harus membuang surat-surat itu ke udara? Seolah-olah
menggambarkan bahwa Bonaga adalah sosok yang sedemikian disegani,
sehingga dengan cara apapun rekan bisnisnya tidak akan keberatan. Apakah
tidak bisa dengan cara lain yang lebih elegan, semisal adegan Bonaga
menutup map kontrak, atau Bonaga memasukkan pena ke kantung kemejanya,
atau adegan lain.
Anyway, secara keseluruhan film ini cukup bagus.
Namun yang paling membuat saya terkesan adalah lagu-lagu perjuangan yang
ditampilkannya. Lagu-lagu semacam ini yang membuat Nasionalisme kita
tergetar, terlebih kemunculannya disesuaikan dengan alur cerita.
Ditambah lagi sosok Nagabonar adalah mantan pejuang kemerdekaan,
sehingga kloplah jika memang harus diperdengarkan lagu-lagu tersebut.
Yang lebih menarik bagi saya, adalah aransemen yang digunakan pada
lagu-lagu tersebut. Alih-alih terjebak pada mode lagu perjuangan yang
monoton dan kaku, lagu-lagu itu agak sedikit dirubah aransemennya. Kalau
boleh saya katakan ya, lagu perjuangan dengan aransemen modern.
Saya pribadi nikmat sekali mendengar lagu Syukur, yang dijadikan sebagai
musik latar pada adegan di Lubang Buaya. Dengan modifikasi aransemen,
basnya menjadi lebih fleksibel (mungkin versi aslinya malah tidak ada
basnya, saya rasa). Jadi, jiwa nasionalismenya masih kental terasa,
namun pada saat yang sama musiknya menjadi lebih enak untuk dinikmati.
Sebenarnya, boleh tidak sih merubah aransemen lagu-lagu perjuangan?


0 komentar:
Poskan Komentar