Kamis, 16 Agustus 2007

Pertemuan yang singkat

Minggu kemarin, kantor menugaskan saya untuk mengikuti pelatihan di Jakarta.
BPS Propinsi Bengkulu menunjuk saya (why me? coz yang lain sudah ke
Jakarta...) sebagai wakil dari Propinsi Bengkulu ini. Dan jadilah saya
berangkat ke Jakarta, pelatihan plus jalan-jalan. Sebenarnya saya tidak tega
meninggalkan istri tercinta, nampak jelas di raut wajahnya bahwa ia sangat
enggan untuk berpisah dengan suaminya tercinta. Phew... lanjut mas!

Tanpa terasa, sampailah saya ke ibukota. Minggu siang pukul 14, kira-kira
apa yang mau saya lakukan? Ugh... saya lupa, ada satu travel bag besar yang
harus saya gotong kemana-mana. Terlebih adik datang menjemput (Wulan,
namanya. Walaupun lebih cocok bernama Gerhana Wulan, hehe.) dan ternyata
sudah menunggu dari pukul 11 tadi. Hmm, sebaiknya langsung saja ke Ciputat.

Sepanjang jalan, ia bercerita mengenai Dexpand. Dexpand adalah perusahaan
tempat ia bekerja sekarang, yang dari ceritanya, sistem manajemennya
mengadopsi sistem MLM. Pelan-pelan saya amati secara lebih mendetail. Hmm,
ada perubahan positif yang saya rasakan pada dirinya. Mulai dari kemampuan
bicaranya yang meningkat, gaya bahasa tubuhnya yang semakin elegan, tata
riasnya yang menurutku "paling cantik didalam bus DAMRI yang kami tumpangi
saat ini", dan yang jelas selera berbusananya yang lebih baik.

Katanya, jika ia memenuhi target maka ia akan diangkat sebagai Asisten
Manager. Ya, semoga saja tercapai. Setidaknya, kali ini bukan menjadi SPG
lagi...

"Apakah menjadi SPG itu memalukan?" tanyanya.

Well, sebenarnya bagi saya bukan "memalukan" yang menjadi masalahnya, namun
hati ini rasanya tak tega saat melihatnya masih menjadi SPG Forex. Ditambah
lagi bosnya yang selalu negatif thinking terhadap dirinya. Sampai sekarang
saya nggak habis pikir, bosnya itu dapat berapa sih waktu diajari PMP
(sekarang PPKn) di sekolahnya? Untuk sekedar shalat saja, harus rela
mendengar omelan-omelannya, yang katanya malas.. lah, cari-cari alasan..
lah. Tanpa mulut besarnya saja, rasanya adikku tersayang itu sudah cukup
tersiksa dengan waktu kerjanya yang tanpa kompromi.

Di Ciputat, kami mampir ke Ramayana Ciputat. Bukan untuk shopping, tapi
makan.

Kami berdua masuk KFC, dan langsung berbagi tugas. Koper sudah dititipkan ke
pelayan (anyway, pelayanan di KFC Ramayana Ciputat bagus sekali. Tidak
seperti di KFC Bengkulu). Saya bertugas mengantri makanan, dan dia bertugas
mencari tempat duduk plus menjaga laptop kantor (saya pikir, untuk
kegiatan-kegiatan begini sebenarnya laptop saya pun sudah memadai. Celeron
sih, namun rasanya performa kerjanya tidak kalah jika bukan untuk bermain
game).

"Nomor satu mas!" pesannya. Kutanya dengan bahasa tarzan, apakah ia yakin
dengan pilihannya itu, dan nampaknya ia bergeming dengan pilihannya.
Akhirnya saya pun memesan dua porsi Kombo Satu, plus dua es krim.

Dengan susah payah, akhirnya kedua ayam itu masuk juga ke perutku. Dua ayam
lainnya, masuk ke perut adikku disertai decak kekenyangan. Ayam-ayam ini
cukup besar ukurannya, atau setidaknya pada hari itu ayam-ayam yang ada
berukuran lumayan menguntungkan. Sebegitu kenyangnya, hingga adikku tidak
lagi memerlukan makan malam (ngirit, maybe).

Akhirnya kami berpisah di Ciputat. Saya ke arah Parung, karena menginap di
tempat Tante saya, sedang ia kembali ke kos-kosannya di daerah Fatmawati.

0 komentar: