Setelah gempa, esoknya sebenarnya saya ada rencana untuk masuk kantor.
Well, bukan sebuah alasan untuk bolos kan. Apalagi banyak deadline yang
sangat-sangat mepet. Pengolahan-pengolahan harus berjalan secara
simultan dengan batas waktu yang hampir serentak.
Tapi, apa mau dikata. Saat pertama tiba di kantor, sekilas pandang
ternyata keadaan gedung kantor masih bisa berdiri tegak. Gempa 7,9 SR
ternyata tidak lantas meluluhlantakkan gedung kantor. Ia masih berdiri
tegak seolah-olah tidak terpengaruh dengan gempa. Cuma saat saya sampai
di kantor, mengapa semua kawan-kawan masih mengobrol di luar gedung.
Biasanya mereka ada di ruangannya masing-masing, asyik dengan
pekerjaannya sendiri-sendiri.
Begitu saya masuk, barulah saya tahu mengapa. Gedung sudah penuh dengan
retakan-retakan hebat, terlebih di tulang-tulang bangunannya. Saya
sebenarnya tidak begitu paham mengenai konstruksi bangunan. Namun, saya
tahu dari kawan kerja bahwa selop-selop penyangga dinding, dan
penyambung antara tulang-tulang bangunan itu kemungkinan sudah terlepas.
Jadi (masih katanya) tak ada yang tahu pasti kapan dinding itu akan
jatuh, bahkan lebih jauh kapan lantai dua itu akan jatuh.
Plafon ruang aula banyak yang tercerabut jatuh dari letaknya semula.
Bahkan dinding ruang Produksi dan Sosial hancur tercuil dan berlubang.
Tangga naik di bagian depan alhamdulillah masih utuh, namun tangga naik
di bagian samping malah mempunyai retakan yang cukup mengkhawatirkan.
Anyway, saya masih nekad naik ke ruangan saya. Ruangan pengolahan
letaknya berada di atas pojok sebelah kiri gedung. Dari luar saya
melihat dokumen-dokumen yang berserak tak tentu letaknya. Setelah saya
masuk, keadaannya bahkan lebih kacau. Monitor-monitor jatuh terserak,
bahkan satu monitor 17" pecah berantakan di lantai. Komputer-komputer
berubah-ubah posisi, dan ada printer pecah tergeletak di lantai.
Dokumen-dokumen yang telah tersusun sistematis kini berantakan, tidak
tahu mana yang sudah dientry atau belum.
O-M-J (Oh my god, pinjem ucapannya Tante Heppy di film Eneng dan Kaos
Kaki Ajaib), bagaimana bisa mengejar deadline?


0 komentar:
Poskan Komentar