Kamis, 20 Desember 2007

Idul Adha di Bengkulu

Idul Adha kali ini, saya dan istri memutuskan untuk merayakan lebaran di
Bengkulu saja. Ini Idul Adha kedua saya setelah menikah, dan sebetulnya
terbersit juga dalam benak kami berdua keinginan untuk pulang kampung.
Budaya yang melekat membuat orang Indonesia (umumnya) merasa lebih sreg
jika merayakan lebaran, baik Idul Fitri maupun Idul Adha di kampung
halaman tercinta.

Hal ini rupanya juga tak luput dari pengamatan pera penyedia
transportasi di Bengkulu. Harga tiket terus merangkak naik seiring
bertambahnya hari menuju Idul Adha. Bahkan untuk tiket pesawat, bisa
sampai tembus angka 700 ribu. Suatu kenaikan yang bukan main-main dari
rata-rata harga tiket sekitar 300an ribu. Harga yang mahal, masih
ditambah susahnya dapat tiket, tidak menghalangi niat para calon pemudik
untuk menggunakan pesawat.

Namun memang kenyataan tidak selalu sejalan dengan keinginan kita.
Sebenarnya sih mungkin masih mampu untuk sekedar pulang kampung. Namun
hidup masih panjang, dan nafas masih berlanjut. Masih banyak rencana
yang saya susun bersama istri saya satu-satunya. Dan realisasi
rencana-rencana tersebut sudah pasti memerlukan biaya. Toh mudik
bukanlah sebuah kewajiban untuk kaum muslim.

Jadilah bangun pagi-pagi, mandi dan bergegas untuk berangkat shalat Ied.
Untuk menyemarakkan suasana, istri tercinta memasak soto yang katanya
adalah soto Bancar (bagi yang belum tahu, Bancar adalah nama tempat di
kabupaten Purbalingga). Namun karena waktu yang terbatas, akhirnya
masak-memasak ditunda setelah shalat Ied. Setelah shalat Ied, dan proses
masak-memasak selesai, kami pun bersama-sama menikmati soto Bancar.
Kemudian setelah istirahat beberapa saat, kami bersilaturahmi ke tempat
kawan-kawan yang dituakan.

Alhamdulillah... Syukur kami kepada-Mu atas nikmat ini ya Allah.

0 komentar: