Tanggal 23 Desember 2007. Hari ini.
Hari ini saya rasakan benar-benar sepi. Jalan-jalan di kota Bengkulu
lebih lengang dibandingkan biasanya. Cuaca gerimis dengan matahari
malu-malu. Sebenarnya hari ini biasa saja, tak (belum) ada yang istimewa.
Seorang profesor dari Brazil, meramalkan akan terjadi gempa bumi yang
cukup besar. Beliau juga meramalkan bahwa gempa bumi itu akan diikuti
dengan gelombang pasang air laut, yang dikenal orang sebagai 'tsunami'.
Beliau meramalkan peristiwa itu akan terjadi hari ini. Di lokasi yang
familiar dengan saya, di Bengkulu, disini..
Konon, karena itulah maka Bengkulu lengang seperti sekarang ini. Semua
bergegas untuk eksodus, mencari lokasi yang aman, atau setidaknya
dianggap aman. Mereka berusaha untuk menghindar dari Bengkulu, sejauh
mungkin. Faktanya, bis dan pesawat memang selalu penuh, dan harganya pun
melonjak.
Kalau menurut saya pribadi, sepinya Bengkulu disebabkan oleh beberapa
hal. Idul Adha, Natal, Tahun Baru, Cuti Bersama, Libur Sekolah, dan
Ramalan Gempa, adalah penyebab sepinya Bengkulu seperti sekarang ini.
Dan beberapa hal ini terakumulasi menjadi satu sehingga menimbulkan satu
efek yang sama dan di waktu yang sama.
Eksodus.
Idul Adha yang jatuh pada tanggal 23 kemarin, adalah peristiwa sakral
bari umat Islam. Siapapun, termasuk saya, pasti merasa lebih afdol
merayakan Ied di kampung bersama orang tua. Maka banyak yang berjuang
sekuat tenaga untuk dapat pulang kampung merayakan suasana Ied bersama
orang tua. Ini adalah penyebab pertama Bengkulu lengang hari ini.
Jika umat islam merayakan Idul Adha, maka umat Kristen merayakan Natal.
Dan meskipun Natal hanya satu hari saja, lebih singkat dibandingkan Ied,
banyak juga umat Kristen yang ingin merayakannya bersama keluarga di
tempat asal. Ini adalah penyebab kedua Bengkulu lengang hari ini.
Tahun baru yang sebentar lagi akan kita jelang, tentu merupakan momen
spesial yang hanya datang setahun sekali (yah, namanya juga tahun
baru...). Di momen yang spesial ini tentu akan lebih dikenang jika kita
menghabiskan waktu di tempat yang juga spesial. Maka banyak penduduk
Bengkulu yang mengambil kesempatan ini untuk mencari tempat yang
spesial, lebih spesial lagi jika di luar Bengkulu. Ini adalah penyebab
ketiga Bengkulu lengang hari ini.
Kesempatan untuk jalan-jalan ke luar Bengkulu lebih terbuka lebar dengan
adanya cuti bersama yang datang menambal lubang-lubang hari kejepit
nasional. Cuti 'maksa', karena orang yang tidak mau cuti pun dipaksa
untuk mengambil cuti. Praktis, dengan adanya cuti bersama maka liburan
terbentang panjang dari tanggal 20 Desember 2007 sampai dengan tanggal 1
Januari 2008, dengan perkecualian masuk pada tanggal 27 dan 28 Desember
2007. Dan saya sudah bisa membayangkan saat saya masuk tanggal 27 besok,
pasti banyak yang tidak masuk karena berbagai alasan. Ini jelas penyebab
Bengkulu lengang hari ini. Penyebab keempat ini menurut saya adalah
penyebab yang cukup signifikan, yang berperan cukup besar.
Libur sekolah yang jatuh di penghujung tahun juga membuat banyak
penduduk Bengkulu ingin menghabiskan waktu di luar Bengkulu. Mereka
ingin mencari suasana baru yang bebas dari kegiatan sehari-hari,
terlebih di Bengkulu tidak ada sarana rekreasi yang serius dan bisa
diperhitungkan. Setidaknya tidak jauh-jauh dari pantai, jagung bakar,
dan benteng. Penyebab kelima ini sebenarnya kejadian rutin yang normal.
Penyebab keenam adalah ramalan gempa yang akan datang hari ini. Ini juga
penyebab yang cukup signifikan, karena pers mem blow-up berita sehingga
benar-benar heboh. Apalagi media lokal selalu mengaitkan
peristiwa-peristiwa yang ada dengan ramalan ini. Beritanya pun
dieksploitasi besar-besaran, sehingga masyarakat benar-benar panik dan
menelan mentah-mentah semua yang dikabarkan media. Mengungsi menjadi
pilihan paling aman dari sekedar tempat berkumpul.
Jadi karena semua hal ini tumplek-blek (maksudnya: bercampur bersama)
menjadi satu, wajar jika Bengkulu nampak lengang hari ini. Saya sendiri
enjoy aja, sambil berhati-hati dan waspada. Jika ajal sudah memanggil,
ia akan datang kemanapun kita pergi. Namun jika belum saatnya, badai pun
takkan sanggup membunuhku...
So, selamat datang tsunami..
Itu sajalah.


0 komentar:
Poskan Komentar