Senin, 27 Agustus 2007

All program error, please format your brain

Hari ini kok kayaknya semua errata (baca: error) banget buat saya. Just
no luck at all. Yah, semoga esok lusa akan ada titik terang untuk semua
program-program yang sedang saya 'utak-atik', atau jangan-jangan malah
tambah nggak karu-karuan.

Apes pertama dimulai dari ADOdb yang nggak jalan-jalan. Saya dapat
'oleh-oleh' kerjaan dari kasi Diseminasi yang ikut pelatihan web di
Jakarta, n scriptingnya harus menggunakan PHP-PostgreSQL. Mungkin kalau
menggunakan PHP-MySQL tidak akan serepot ini. Hee.. Tinggal pakai
Dreamweaver, built-in Recordset yang ada sudah cukup memudahkan. Tinggal
dikustomisasi sedikit saja, jadi deh. So, saya menggunakan bantuan ADOdb
untuk datalayernya, supaya proses ganti-ganti database akan lebih mudah.
Sekarang pun saya develop menggunakan PHP-MySQL masih (bandel yah, sudah
dibilang suruh pakai PostgreSQL. Hehe.. Habis intranet kantor kan pakai
MySQL).

Singkat cerita, saya mencoba-coba ADOdb dan terheran-heran mengapa
script saya nggaaaak jalan-jalan. Sudah saya cek, periksa
berulang-ulang, masih saja error. Rasanya sudah PLEK (sama persis)
dengan contoh yang terbukti jalan, tapi masih diam juga. Saat senewen,
saya iseng memandangi laptop Celeron tercinta saya. Setelah lama
melamun, barulah saya sadar kalau script saya memuat variabel Field[$i].
Seharusnya field[$i] (perhatikan beda huruf F dengan huruf f). Wack!!

Apes kedua pada flurry yang error terus seharian ini. Network Error
menjadi tulisan favorit di Sony Ericsson W700i saya full day!

Apes ketiga, cari password kok susah banget! Mau direset kok sayang data
yang ada didalam database, pusing rasanya.

Apes keempat, blog friendster yang sedianya tadi siang mau diisi posting
'perdana' masih juga belum bisa. Jadi, terpaksa rencana posting siang
dibatalkan. Habis mau bagaimana lagi, entah mungkin settingan
mobloggingnya yang masih kurang cocok.

Pelan-pelan terbaca tulisan di layar...

"All program error, please format your brain"

Minggu, 26 Agustus 2007

Wireless LAN, sebuah pemikiran saja

Kemarin, kepala bidang saya memanggil saya dan membicarakan beberapa hal
mengenai pekerjaan. Mengenai pengolahan data, alokasi petugas, peta
digital, dan yang terakhir mengenai pembelanjaan computer supplies.
Mengenai computer supplies, beliau meminta tambahan rincian
barang-barang yang akan dibeli. Rencananya sih, besok senin kantor akan
mencari barang-barang yang diperlukan sesuai dengan rincian tersebut.

Hmm, ada beberapa hal sih yang terlintas di benak saya. Mulai dari
printer laser untuk mencetak publikasi-publikasi maupun press release,
CD kosong untuk backup data-data penting hasil pengolahan, flashdisk 4Gb
(kalau diizinkan), dan bermacam-macam. Salah satu barang yang rencananya
ingin saya ajukan adalah Access Point dan Wireless NIC.

Setelah kemarin kami menata ulang LAN kantor yang masyaAllah nggak
karu-karuan (bayangkan saja, kabel LAN kami ternyata menggunakan kabel
telepon. Lebih parah lagi jalurnya diparalel, benar-benar pekerjaan
tukang telpon, bukan spesialis jaringan), saya mendapat ide bagaimana
jika kami membuat Wireless LAN di kantor?

Yah, sambil menunggu VPN yang entah kapan akan disambungkan dari BPS
Pusat ke BPS Propinsi Bengkulu, rasanya Wireless LAN patut untuk
dipertimbangkan. Saya membayangkan, siapa saja yang membawa laptop ke
kantor kemudian dapat langsung terhubung dengan intranet BPS Propinsi
Bengkulu. Atau seperti sewaktu pelatihan SBH-S di Jakarta tempo hari
(baca postingan saya kemarin di http://bagus-setiyanto.co.nr), bermain
Winning Eleven 8 antara laptop BPS Batam dan BPS Banten juga dengan
menggunakan Wireless.

Bisa jadi pemanfaatannya baru sekedar sharing printer saja, mengingat
cuma itu fasilitas satu-satunya yang menjadi favorit di kantor.
Intranet, yang saya bangun dengan PHP-MySQL saja sangat jarang digunakan
oleh karyawan-karyawan kantor. Apalagi chatting (dalam lingkup intranet
saja), internet sharing, streaming (kalau ini memang belum ada), dan
macam-macam fitur lainnya. Namun setidaknya Wireless LAN sudah ada dan
berguna.

Pikiran lebih eksentrik lagi, hehe, jika Wireless LAN telah aktif saya
bisa membawa laptop Celeron tercinta saya ke kantor dan entry data
menggunakan laptop saya. Entry data dengan interface client di laptop
saya dan database server menggunakan server IBM kantor, terhubung
langsung dengan wireless tanpa harus mencari koneksi kabel LAN yang kosong.

Hari gini nggak pake wireless?
(well, lihat besok senin juga sih. Kesampaian nggak cita-cita ini. Hehe..)

Selasa, 21 Agustus 2007

Lagu Perjuangan dengan Aransemen Modern

Kemarin, tetangga sebelah rumah saya meminjamkan VCD film Nagabonar Jadi
2 kepada saya. Tak usah ditanya lagi, saya sudah bisa mengenali kalau
ini adalah VCD bajakan, meskipun gambarnya sangat bagus. Sebenarnya saya
tak ada waktu lagi untuk sekedar menonton film, maklumlah kesibukan
kerja akhir-akhir ini membuat waktu seolah menjadi sangat singkat, namun
saya kemudian menontonnya sambil makan dan aktivitas-aktivitas lain
bersama istri dan adik ipar saya.

Filmnya sendiri saya rasa cukup bagus, dan nuansa Nasionalismenya sangat
terasa. Saya cukup terpesona dengan panorama kebun sawit milik
Nagabonar, yang disorot dari atas bukit tempat makam MAK Nagabonar,
istrinya Kirana, dan sahabatnya Bujang. Pemandangan hijau nan teratur
dan luar biasa luasnya, terbentang sebagai latar belakang adegan dimana
Nagabonar seolah berbicara dengan mereka (berikutnya juga ada adegan
Bonaga, anak Nagabonar, menyampaikan pesan ayahnya).

Cuma ada satu adegan yang kurang sreg di hati saya, yaitu saat terakhir
Bonaga harus menandatangani kontrak kerjasama dengan pihak Jepang.
Disana digambarkan bahwa saat akan menandatangani kontrak, Bonaga yang
sedang bimbang lalu mendapat informasi bahwa ayahnya dalam kondisi yang
kurang baik. Akhirnya Bonaga membatalkan kontrak tersebut seraya
membuang surat-surat kontraknya ke udara.

Dari sudut pandang saya, penggambarannya terlalu over. Maksud saya,
mengapa harus membuang surat-surat itu ke udara? Seolah-olah
menggambarkan bahwa Bonaga adalah sosok yang sedemikian disegani,
sehingga dengan cara apapun rekan bisnisnya tidak akan keberatan. Apakah
tidak bisa dengan cara lain yang lebih elegan, semisal adegan Bonaga
menutup map kontrak, atau Bonaga memasukkan pena ke kantung kemejanya,
atau adegan lain.

Anyway, secara keseluruhan film ini cukup bagus.

Namun yang paling membuat saya terkesan adalah lagu-lagu perjuangan yang
ditampilkannya. Lagu-lagu semacam ini yang membuat Nasionalisme kita
tergetar, terlebih kemunculannya disesuaikan dengan alur cerita.
Ditambah lagi sosok Nagabonar adalah mantan pejuang kemerdekaan,
sehingga kloplah jika memang harus diperdengarkan lagu-lagu tersebut.

Yang lebih menarik bagi saya, adalah aransemen yang digunakan pada
lagu-lagu tersebut. Alih-alih terjebak pada mode lagu perjuangan yang
monoton dan kaku, lagu-lagu itu agak sedikit dirubah aransemennya. Kalau
boleh saya katakan ya, lagu perjuangan dengan aransemen modern.

Saya pribadi nikmat sekali mendengar lagu Syukur, yang dijadikan sebagai
musik latar pada adegan di Lubang Buaya. Dengan modifikasi aransemen,
basnya menjadi lebih fleksibel (mungkin versi aslinya malah tidak ada
basnya, saya rasa). Jadi, jiwa nasionalismenya masih kental terasa,
namun pada saat yang sama musiknya menjadi lebih enak untuk dinikmati.

Sebenarnya, boleh tidak sih merubah aransemen lagu-lagu perjuangan?

Sabtu, 18 Agustus 2007

Pelayanan Pos, belum maksimal atau memang sudah mentok?

Hari Rabu, kakak saya mengirim paket dari Banjarnegara. Sedianya, isi paket itu akan digunakan hari minggu besok. Diperkirakan sampai di Bengkulu hari Jum'at.

Memang kemarin jatuh tanggal merah tanggal 17 Agustus, sehingga kantor pos libur. Namun, sampai tadi pagi dan sore dicek masih belum ada.

Mengapa lama sekali waktu perjalanan paket melalui pos? Apakah sudah maksimal, namun memang ada aral melintang, atau memang sudah mentok layanannya?

Bagus M Nur S - SonyEricsson W700i

Kamis, 16 Agustus 2007

Windows Vista, Windows boros resource?

Setelah saya membeli CD Windows Vista (baca postingan saya sebelumnya),
saya mencoba menginstallnya dirumah. Saya berharap ada satu windows yang
katanya fenomenal. Windows yang sangat ditunggu-tunggu para pengguna
komputer. Namun yang paling saya tunggu sebenarnya adalah tampilan
Windows Aero yang berkesan futuristik.

Setelah saya install, rupanya banyak hal yang masih belum sesuai dengan
keinginan saya sebagai pengguna komputer level menengah. Windows Vista
memang memudahkan proses pencarian file-file yang ada di komputer. Namun
saking mudahnya justru saya kebingungan untuk mencari suatu file dengan
letak aslinya, karena sepertinya Windows Vista sangat mengunggulkan
fasilitas search-nya. Baru setelah beberapa lama akhirnya saya bisa
menemukan dimana aslinya letak file saya. Hmm... saya lebih suka Windows
XP saya.

Kemudian saya mencoba memainkan lagu-lagu yang ada di komputer saya.
Komputer saya malah menampilkan pesan error, ternyata sound-card saya
tidak terbaca di Windows Vista. Waduh, buat apa canggih kalau malah
merepotkan begini? Dan saya baru sadar, mana tampilan Windows Aero-nya?
Yang ada malah tampilan yang biasa-biasa saja, seperti tampilan-tampilan
MSStyles lainnya. Padahal saya sudah menginstall driver untuk Vista.
Hmm... saya lebih suka Windows XP saya.

Prosesnya itu lho. Nggak gesit seperti biasanya saya pakai XP. Bahkan
laptop Celeron saya pun bisa menandingi dalam membuka Word Excell.
Padahal spesifikasi komputer saya sudah menggunakan Prosesor >1Ghz, VGA
128Mb (ATi), HDD 160Gb, DVDRW. RAM 512Mb (ada sih 1Gb lagi, tapi males
masangnya). Masih lama juga... Hmm... saya lebih suka Windows XP saya.

Usut punya usut, ternyata Index PC saya cuma 1.0. Dan ini disebabkan
oleh... VGA? Prosesor yang nggak sampai 2Ghz ternyata malah mempunyai
Index >3.0. Kenapa VGA, itu yang saya nggak habis pikir. Padahal driver
khusus untuk Vista sudah terinstall, namun masih juga Index-nya rendah.
Piye toh.

Jadi saya pikir, Windows ini seperti cuma hiasan yang boros resource
saja. Untuk sekedar melihat tampilan aslinya saja, kita harus ganti
hardware. Benar-benar boros resource. Dan itu semua untuk tambahan hal
yang sebenarnya tidak urgent. Saya sudah mencoba (di laptop Celeron
saya) Windows XP dengan didukung WindowBlinds, dan ternyata saya juga
mendapatkan efek-efek Aero. Tinggal menyempurnakan dengan Vista
Community Pack dan Vista Styles Pack. Benar-benar hiasan kan?

Pelatihan Pengolahan SBH 2007

Setelah pertemuan yang singkat dengan adikku (baca postingan saya
sebelumnya), esoknya saya menuju BPS untuk registrasi. Senin pagi saya sudah
berangkat, dengan maksud agar bisa mampir ke Mangga Dua. Rencana sudah
disusun masak-masak dari rumah. Pertama-tama, saya registrasi dulu ke BPS
Pusat. Setelah registrasi selesai, kemudian saya check-in di hotel Alia.
Kemudian, setelah koper bisa diamankan di kamar, baru tancap gas ke Mangga
Dua.

Dari Ciputat, saya diantar Oom ke prapatan Lebak Bulus arah Pondok Indah.
Dengan lincahnya motor yang kami kendarai menyelinap diantara padatnya
kendaraan Jakarta. Oh god! Hampir empat tahun di Bengkulu, saya jadi
tersiksa dengan kemacetan Jakarta. Lucu rasanya, mengingat dulu sewaktu
kuliah saya cukup menikmati kemacetan Jakarta. Setidaknya saya bisa tidur di
tengah-tengah kemacetan itu, dan saat kendaraan sudah mendekati tujuan,
alarm biologis saya akan membangunkan saya agar tidak terlewat (pernah sih,
saat alarm saya ngadat). Naik metromini ke arah Blok M, hati dag-dig-dug
mengingat laptop kantor yang saya bawa.

Sampai Blok M, saya memutuskan untuk menggunakan Busway. Enak juga ternyata,
jika tidak sedang ramai. Sejuk dengan hembusan AC, sapaan ramah operator
yang direkam dalam kaset, dan yang membuat saya terkesan... supirnya wanita.
Bukan saya membeda-bedakan gender, namun jarang sekali supir wanita yang
saya temui.

Turun di pemberhentian Pasar Baru, saya segera menuju BPS Pusat. Namun belum
lagi menapakkan kaki disana, saya bertemu dengan salah satu peserta
pelatihan (belakangan saya baru tahu, namanya mas Musair) dari Palangkaraya.
Katanya semua peserta disuruh langsung check-in di hotel saja. Dan setelah
check-in di hotel, ternyata acara pembukaan baru dimulai besok. Jadilah
rencana saya ke Mangga Dua semakin mulus. Jadilah saya memborong CD Windows
Vista, Ms. Office 2007, XP all in one, dan Winning Eleven untuk adik ipar.

Besoknya pelatihan dimulai dengan pembukaan, biasalah... protokoler gitu.
Belum afdhal rasanya tanpa pembukaan. Setelah itu, acara diisi dengan review
seputar materi program pengolahan SBH 2007 BL (sebut saja BL, biar ringkas).
Well, bagi saya sih ini bukan review lagi. Ini adalah inti materi program
pengolahan BL. Apa saja yang dilakukan para utusan BPS Propinsi Bengkulu di
Pusat sebelumnya, sampai-sampai banyak informasi penting yang tidak sampai?
Mulai dari pisah data, gabung data, sampel pengganti yang masih error
walaupun sudah dientri semua. Hari pertama (kedua, sebenarnya) ditutup
dengan instalasi program pengolahan SBH 2007 S (sebut saja S), yang tidak
jalan. Versi beta, biasa...

Kemudian besoknya, dilanjutkan dengan instalasi (lagi) program S. Sukses,
sebagian besar. Sayangnya, beberapa laptop (termasuk yang saya bawa) error,
terutama bagi yang sudah terinstall PostgreSQL di dalamnya. Dan karena saya
dapat oleh-oleh PR membuat program dengan PHP-PostgreSQL, dari utusan
Bengkulu yang jalan-jalan ikut pelatihan PHP-PostgreSQL, otomatis laptop
saya install PostgreSQL. Program S tidak jalan, dan karena ada programmernya
yah biarlah programmernya yang menyelesaikan.

Klutik-klutik, tangan lincah programmer mencoba menyelesaikan masalah di
laptop. Karena tidak selesai, maka masalah dipending sesudah makan siang.
Setelah makan siang, usaha kembali dilakukan, namun hasilnya masih juga
gagal.Entah karena keterbatasan waktu, atau memang sudah kehabisan akal,
maka dianjurkan untuk uninstall PostgreSQL, baru kemudian proses install
diulang dari awal. Untung saja database saya masih belum fix, jadi tidak ada
masalah kalau perlu diuninstall.

Singkat cerita, saya turut mencoba-coba program S. Ternyata validasinya
masih banyak yang kurang. Saya mencoba menginstall program Client dan Server
dalam satu komputer, jadi sementara ya stand alone dulu. Sebelumnya, demi
kelancaran proses, program BL di-patch agar bisa ekspor data untuk program S
(aah, ini mah bisa-bisanya programmernya supaya nggak langsung ekspor dari
dulu-dulu). Sebelum pulang, diajarkan cara mengganti server agar Client
tidak selalu membaca localhost. Lagi-lagi, tidak jalan.

Saya berpikir, jika yang datang bukan orang yang benar-benar paham,
bagaimana mungkin semua informasi yang didapat kali ini bisa sampai ke
pelaksana kegiatan? Bisa-bisa kegiatan pengolahan akan terhambat hanya
gara-gara pelaksana tidak tahu mengenai fitur-fitur program yang berguna
bagi kelancaran pengolahan. Bagaimana tidak? Dengan program yang relatif
mudah untuk diinstall saja, program BL masih banyak fitur-fitur yang tidak
saya ketahui ternyata ada, tersedia dalam program.

Asal tahu saja, semua program SBH baik BL maupun S, dibuat dengan
menggunakan Clarion. Bedanya, untuk BL dibuat dengan Clarion plus TopSpeed,
sedangkan untuk S dibuat dengan Clarion plus PostgreSQL. Program BL
sebenarnya tidak ditujukan untuk berbasis jaringan, namun bisa diakali
dengan sharing folder di server yang dapat diakses oleh jaringan. Lain
halnya program S, memang ditujukan berbasis jaringan. Namun masalahnya,
Client masih terus mencari server pada localhost.

Hari terakhir, pengurusan SPJ adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh
semua peserta. Dan sebelum pulang, diberikan program baru hasil perbaikan
yang katanya sudah bisa menggunakan satu Server dan banyak Client. Tak lupa
protokoler penutupan, yang sebenarnya para peserta sudah tidak lagi konsen.
Iseng-iseng saya coba lagi program baru tadi (versi final yang akan saya
bawa ke Bengkulu). Saya sudah kehabisan stok rasa terkejut melihat ternyata
programnya kembali tidak jalan.

Otak mulai bekerja, saya lihat di log file installer kalau program membuat
key di registry. So, saya mulai bermain-main dengan regedit dan mulai
mencari key yang berisi "localhost". Ketemu! Saya ganti dengan 100.10.1.100,
kemudian saya jalankan Client program S.

"Could not find database server"

Aha, ketemu sudah solusinya...
(saya pikir-pikir, sebenarnya ada cara yang lebih mudah lagi. Ubah saja
konfigurasi ODBC di Control Panel. Ah, gitu aja kok repot!)

Pertemuan yang singkat

Minggu kemarin, kantor menugaskan saya untuk mengikuti pelatihan di Jakarta.
BPS Propinsi Bengkulu menunjuk saya (why me? coz yang lain sudah ke
Jakarta...) sebagai wakil dari Propinsi Bengkulu ini. Dan jadilah saya
berangkat ke Jakarta, pelatihan plus jalan-jalan. Sebenarnya saya tidak tega
meninggalkan istri tercinta, nampak jelas di raut wajahnya bahwa ia sangat
enggan untuk berpisah dengan suaminya tercinta. Phew... lanjut mas!

Tanpa terasa, sampailah saya ke ibukota. Minggu siang pukul 14, kira-kira
apa yang mau saya lakukan? Ugh... saya lupa, ada satu travel bag besar yang
harus saya gotong kemana-mana. Terlebih adik datang menjemput (Wulan,
namanya. Walaupun lebih cocok bernama Gerhana Wulan, hehe.) dan ternyata
sudah menunggu dari pukul 11 tadi. Hmm, sebaiknya langsung saja ke Ciputat.

Sepanjang jalan, ia bercerita mengenai Dexpand. Dexpand adalah perusahaan
tempat ia bekerja sekarang, yang dari ceritanya, sistem manajemennya
mengadopsi sistem MLM. Pelan-pelan saya amati secara lebih mendetail. Hmm,
ada perubahan positif yang saya rasakan pada dirinya. Mulai dari kemampuan
bicaranya yang meningkat, gaya bahasa tubuhnya yang semakin elegan, tata
riasnya yang menurutku "paling cantik didalam bus DAMRI yang kami tumpangi
saat ini", dan yang jelas selera berbusananya yang lebih baik.

Katanya, jika ia memenuhi target maka ia akan diangkat sebagai Asisten
Manager. Ya, semoga saja tercapai. Setidaknya, kali ini bukan menjadi SPG
lagi...

"Apakah menjadi SPG itu memalukan?" tanyanya.

Well, sebenarnya bagi saya bukan "memalukan" yang menjadi masalahnya, namun
hati ini rasanya tak tega saat melihatnya masih menjadi SPG Forex. Ditambah
lagi bosnya yang selalu negatif thinking terhadap dirinya. Sampai sekarang
saya nggak habis pikir, bosnya itu dapat berapa sih waktu diajari PMP
(sekarang PPKn) di sekolahnya? Untuk sekedar shalat saja, harus rela
mendengar omelan-omelannya, yang katanya malas.. lah, cari-cari alasan..
lah. Tanpa mulut besarnya saja, rasanya adikku tersayang itu sudah cukup
tersiksa dengan waktu kerjanya yang tanpa kompromi.

Di Ciputat, kami mampir ke Ramayana Ciputat. Bukan untuk shopping, tapi
makan.

Kami berdua masuk KFC, dan langsung berbagi tugas. Koper sudah dititipkan ke
pelayan (anyway, pelayanan di KFC Ramayana Ciputat bagus sekali. Tidak
seperti di KFC Bengkulu). Saya bertugas mengantri makanan, dan dia bertugas
mencari tempat duduk plus menjaga laptop kantor (saya pikir, untuk
kegiatan-kegiatan begini sebenarnya laptop saya pun sudah memadai. Celeron
sih, namun rasanya performa kerjanya tidak kalah jika bukan untuk bermain
game).

"Nomor satu mas!" pesannya. Kutanya dengan bahasa tarzan, apakah ia yakin
dengan pilihannya itu, dan nampaknya ia bergeming dengan pilihannya.
Akhirnya saya pun memesan dua porsi Kombo Satu, plus dua es krim.

Dengan susah payah, akhirnya kedua ayam itu masuk juga ke perutku. Dua ayam
lainnya, masuk ke perut adikku disertai decak kekenyangan. Ayam-ayam ini
cukup besar ukurannya, atau setidaknya pada hari itu ayam-ayam yang ada
berukuran lumayan menguntungkan. Sebegitu kenyangnya, hingga adikku tidak
lagi memerlukan makan malam (ngirit, maybe).

Akhirnya kami berpisah di Ciputat. Saya ke arah Parung, karena menginap di
tempat Tante saya, sedang ia kembali ke kos-kosannya di daerah Fatmawati.