Minggu, 16 September 2007

Keadaan Bengkulu pasca gempa

Setelah gempa, tepatnya esok harinya, saya berkeliling sambil membawa
kamera. Saya bermaksud ingin mengambil gambar-gambar kerusakan yang
ditimbulkan oleh gempa. Sayangnya saya belum bisa menampilkan gambarnya
disini, selain karena ukuran masing-masing gambar cukup besar, juga
karena posting ini saya lakukan sehemat mungkin (saya menggunakan
koneksi GPRS, yang menghitung biaya berdasarkan besar kilobyte yang
tertransfer).

Pertama, saya mengambil gambar ruko di dekat Kantor Pos dan Asuransi
Jasa Raharja. Ruko megah lima pintu yang belum lama dibangun, mungkin
baru sekitar satu tahun, amblas. Rukonya sendiri sepertinya tidak
mengalami kerusakan yang berarti, namun bangunan sebelah kiri amblas
sekitar satu meter dan kini berada dalam posisi terjungkit. Bagian
belakangnya jatuh cukup dalam, sehingga bagian depan ruko itu kini
menghadap miring ke atas.

Tidak begitu jauh, ada ruko yang juga terkena imbas gempa. Kali ini ruko
ini benar-benar melesak secara vertikal ke bawah sedalam kurang lebih
satu meter. Kemudian ada bangunan yang hancur bagian depannya. Terus
berjalan ada juga kantor Dinas Pariwisata yang semua gentengnya jatuh.
Ada juga ruko yang bolong bagian depannya.

Saya belum meninjau langsung, menteri-menteri Jakarta juga belum
meninjau langsung, namun katanya kerusakan di Bengkulu Utara bahkan
lebih dahsyat lagi. Bahkan katanya kantor bupati Bengkulu Utara juga
hancur terkena gempa.

Pikir saya, lumayan juga dana yang dibutuhkan untuk rekonstruksinya...

Keadaan kantor pasca gempa

Setelah gempa, esoknya sebenarnya saya ada rencana untuk masuk kantor.
Well, bukan sebuah alasan untuk bolos kan. Apalagi banyak deadline yang
sangat-sangat mepet. Pengolahan-pengolahan harus berjalan secara
simultan dengan batas waktu yang hampir serentak.

Tapi, apa mau dikata. Saat pertama tiba di kantor, sekilas pandang
ternyata keadaan gedung kantor masih bisa berdiri tegak. Gempa 7,9 SR
ternyata tidak lantas meluluhlantakkan gedung kantor. Ia masih berdiri
tegak seolah-olah tidak terpengaruh dengan gempa. Cuma saat saya sampai
di kantor, mengapa semua kawan-kawan masih mengobrol di luar gedung.
Biasanya mereka ada di ruangannya masing-masing, asyik dengan
pekerjaannya sendiri-sendiri.

Begitu saya masuk, barulah saya tahu mengapa. Gedung sudah penuh dengan
retakan-retakan hebat, terlebih di tulang-tulang bangunannya. Saya
sebenarnya tidak begitu paham mengenai konstruksi bangunan. Namun, saya
tahu dari kawan kerja bahwa selop-selop penyangga dinding, dan
penyambung antara tulang-tulang bangunan itu kemungkinan sudah terlepas.
Jadi (masih katanya) tak ada yang tahu pasti kapan dinding itu akan
jatuh, bahkan lebih jauh kapan lantai dua itu akan jatuh.

Plafon ruang aula banyak yang tercerabut jatuh dari letaknya semula.
Bahkan dinding ruang Produksi dan Sosial hancur tercuil dan berlubang.
Tangga naik di bagian depan alhamdulillah masih utuh, namun tangga naik
di bagian samping malah mempunyai retakan yang cukup mengkhawatirkan.

Anyway, saya masih nekad naik ke ruangan saya. Ruangan pengolahan
letaknya berada di atas pojok sebelah kiri gedung. Dari luar saya
melihat dokumen-dokumen yang berserak tak tentu letaknya. Setelah saya
masuk, keadaannya bahkan lebih kacau. Monitor-monitor jatuh terserak,
bahkan satu monitor 17" pecah berantakan di lantai. Komputer-komputer
berubah-ubah posisi, dan ada printer pecah tergeletak di lantai.
Dokumen-dokumen yang telah tersusun sistematis kini berantakan, tidak
tahu mana yang sudah dientry atau belum.

O-M-J (Oh my god, pinjem ucapannya Tante Heppy di film Eneng dan Kaos
Kaki Ajaib), bagaimana bisa mengejar deadline?

Gempa 7,9 SR

Tanggal 12 September kemarin, terjadi gempa di Propinsi Bengkulu. Gempa
sebesar 7,9 SR (Skala Richter) kali ini benar-benar merupakan gempa yang
membuat saya 'merinding disko' (meminjam istilah Ahmad Dhani waktu
Mamamia Show). Bagaimana tidak 'merinding disko', gempa kali ini
berlangsung cukup lama. Ada yang mengatakan sekitar 7 menit, namun saya
pribadi tidak membenarkan, juga tidak menyalahkan, karena saya tidak
sempat lagi menghitung waktunya.

Selain itu, getarannya yang dahsyat terasa jelas sekali meskipun saya
sudah lari dan berada di luar rumah. Saat gempa terjadi, saya dan
tetangga-tetangga lainnya berdiri di luar rumah. Ada pula yang dalam
posisi jongkok, namun tidak mengurangi syahdunya gempa kali ini. Saya
pribadi menghindari posisi jongkok. Bukan apa-apa, nanti dikira
mengambil kesempatan dalam kesempitan, melihat yang tidak terlihat. Hehe.

Rasanya saya seperti sedang berdiri diatas kapal ferry antar pulau,
dengan ayunan ombak yang tinggi kesana-kemari. Tak luput saya, istri,
adik ipar, dan semua tetangga mengucap apa saja yang bisa terucap.
Terlebih gempa datang saat waktu sekitar Maghrib, sehingga rasanya
semakin menambah kesan mencekam. Rasanya selama hampir empat tahun saya
bertugas disini, inilah gempa yang benar-benar tak bisa saya lupakan.

Kemudian listrik dipadamkan oleh PLN. Sebenarnya maksudnya baik, yakni
untuk menghindari bahaya-bahaya yang mungkin terjadi karena guncangan
gempa, seperti korsleting dan sebagainya. Namun ini malah memperburuk
suasana, karena aktivitas pasca gempa pertama tadi menjadi terhambat.
Terutama aktivitas-aktivitas penting untuk penyelamatan diri maupun
barang-barang berharga.

Kengerian bertambah seiring dengan peringatan BMG mengenai potensi
tsunami yang menyertai gempa tersebut. Ini sebenarnya cukup beralasan,
karena pusat gempa berada di lautan. Saya sendiri beserta keluarga tidak
terlalu ambil pusing dengan tsunami, karena lokasi rumah (sewaan, hehe)
saya rasanya cukup jauh dari garis pantai.

Terakhir, gempa menyebabkan gangguan pada sinyal SimPATI. Semua sms yang
dikirimkan macet, panggilan bahkan untuk sekedar cek pulsa tidak dapat
dilakukan. Walhasil, saudara-saudara dan terutama (alhamdulillah) banyak
kawan-kawan yang menanyakan kabar, panggilan mereka tidak dapat masuk
satupun. Ada gunanya juga punya dua nomor, karena ternyata XL Bebas
mampu mengirim/menerima sms, menerima panggilan maupun melakukan panggilan.

Inilah rasanya naik kapal ferry sebesar 7,9 SR...