Selasa, 25 November 2008

Kamu? Kuliah di ITS?

Seorang teman ngakak saat tahu saya sedang kuliah S2 di ITS.

“Kamu? Kuliah di ITS?”

Saya rada kheki juga diledek seperti itu. Maksud kawan saya tadi, kok bisa saya yang notabene slenge’an waktu kuliah dulu sekarang kuliah lagi. Terlebih lagi jurusannya adalah jurusan yang sebetulnya bukan favorit saya. Statistika. Dan juga bukan favorit bagi sebagian besar teman-teman saya. Jika ditanya mereka pasti memilih jurusan ekonomi, atau sosial, termasuk demografi. Beberapa suka komputasi, termasuk saya.

Walau memang kenyataan sih, hehe, memang sebetulnya basis statistika saya tidaklah selengkap kawan-kawan kuliah dahulu yang berbeda jurusan. Bukan apa-apa, kurikulum yang masih dalam tahap penyempurnaan, sedikit banyak berpengaruh pada mata kuliah yang dipaketkan. Dan kebetulan pada paket yang sesuai jurusan saya, beberapa mata kuliah yang menurut saya kritis justru tidak saya dapatkan.

Mata kuliah seperti I/O (input output), Statistika Nonparametrik, Rancangan Percobaan, Ekonometrik, justru terlewat. Namun saya bersyukur masih sempat mendapatkan Multivariate dan Analisis Regresi. Sebagian besar adalah materi komputasi yang (waktu itu) belum terhubung dengan aspek statistiknya. Mengutip istilah Pak Budi (dosen saya sekarang, Dr.Drs. I Nyoman Budiantara, MS) bahwa kami mempunyai alat yang canggih namun tidak bisa memasukkan colokan listrik ke tempatnya. Maka alat canggih tersebut menjadi sia-sia karena tidak ‘terhubung’ dengan semestinya.

Terus terang, kata-kata ini menjadi sesuatu yang.. entah mengapa begitu berkesan bagi saya. Itu adalah tipikal khas orang Indonesia (sebagian besar, tidak semua) yang betul-betul jago namun tidak mengerti filosofi yang seharusnya dipahami. Maka jangan heran jika orang Indonesia begitu canggih, banyak software yang bisa dikuasai, banyak alat yang dapat diutak-atik, dan banyak pula orang-orang yang sanggup melakukannya. Banyak yang bisa memodifikasi, tapi tidak banyak yang dapat menciptakan.

Ah, puitis sekali..

Saya disini betul-betul belajar dari nol lagi. Jangankan filosofisnya, sekarang hitung-hitungannya pun saya mencoba untuk mengerti (walaupun masih juga belum mengerti). Rekan saya mengatakan:

“Tulis saja apa yang kamu pahami, apa yang sudah kamu pelajari, walaupun kelihatannya remeh”

Sampai saat ini saya tidak pernah menggubris perkataannya. Tapi belum terlambat untuk mencoba. Setidaknya coretan-coretan goblok saja. Karena saya tak lagi berurusan dengan komputer, berurusan dengan program, berurusan dengan server, berurusan dengan jaringan.

Setidaknya mencoba.

0 komentar: