Sabtu, 13 Desember 2008

A Moment To Remember...

Pulang kuliah, siang-siang rasanya mau teler aja. Namun sebelum teler, perut minta jatahnya untuk diisi. Apa boleh baut, eh buat, jadinya mampir dulu di Bonek. Bonek adalah warung makan langganan saya hampir setiap pulang kuliah atau jika siang hari. Sampai disana kebetulan suasananya tidak begitu ramai. Wah, siplah untuk makan siang. Karena kalau terlalu ramai, rasanya tidak nikmat lagi makan (tetep enak juga sih, wong laper!).

Makanan pesanan sudah siap di piring saya, nasi plus sayur-mayur plus ayam mati. Tak lupa sedikit sambal supaya tidak rugi para penanam cabe di negeriku Indonesia ini. Es teh menyusul kemudian, biasanya diantarkan ke meja makan. Saya memilih tempat didekat dua orang remaja muda-mudi yang sedang mengobrol.

Saya makan. Bagian ini rasanya tak perlu untuk saya ceritakan lebih lanjut.

Kemudian seperti biasa, sehabis makan saya menghabiskan ayam yang masih tersisa di piring saya. Sambil makan saya sempat mendengarkan celotehan mereka. Remaja-remaja tanggung yang merasa keren dengan sapaan 'lu', 'gue'. Mereka bercerita panjang lebar.

Mereka bercerita tentang pengalaman liburannya kemarin naik kendaraan masing-masing memecah kemacetan di jalur ibukota. Mulai dari malesnya (awalnya pasti males-malesan kan?), kerepotannya, kebut-kebutannya. Ah, saya dulu juga begitu. Saya lantas teringat masa-masa dimana saya suka memacu GL Max ayah secepat mungkin. Menyalip para pengendara cemen, sampai bis-bis AKAP Surabaya-Solo.

Cerita lain bergulir tentang hobi mereka bermain musik. Kebiasaan 'hang out' dan jalan-jalan bareng. Ah, saya dulu juga begitu. Saya lantas teringat masa-masa saya menjadi additional player di salah satu komunitas anak-anak pabrik gula. Saya teringat masa-masa saya merengkuh gitar, bas, apalagi keyboard karena yang lain kurang begitu familiar dengan alat musik satu ini. Sebetulnya saya punya band sendiri, namun justru jam main saya lebih banyak sebagai additional player.

Lantas mereka bercerita mengenai kerepotan mereka dengan pasangannya masing-masing. Ah, saya dulu juga begitu. Saya bahkan kerepotan membagi waktu untuk pacar-pacar saya dulu. Lantas saya teringat dengan seseorang yang demikian sabar, walaupun akhirnya terkikis oleh saya, kemarahan saya, dan keangkuhan saya. Saya dan ego saya yang sedang puncak-puncaknya. Satu hal yang selalu saya sesali, sampai detik ini.

Sambil tertawa, mereka bercerita tentang hal-hal error. Lebih tepatnya ndablek. Ah, saya dulu juga begitu. Mungkin teman-teman saya sekarang tidak percaya bahwa saya dulu error sekali. Mungkin karena patah hati, plus gejolak pencarian diri, plus plus lainnya. Sedemikian errornya sampai beberapa teman merasa perlu memberikan saya 'terapi' khusus, perlakuan khusus. Just to be spesial. Dan sekarang saya baru menyadari, betapa baiknya mereka.

Saya termenung sendiri. "Ah, saya dulu juga begitu". Kalimat ini sontak menghentak jwa saya sendiri...

"Ternyata, saya sudah tua."

Dulu. Ya, itu berarti sekarang saya sudah tua. Saya sudah punya istri yang (biar bagaimanapun) adalah istri terbaik yang pernah saya miliki. Cinta yang tercipta untuk saya, untukku. Saya punya anak termanis yang pernah saya punya.

Sekarang saya tidak lagi tukang ngebut. Bahkan untuk menambah kecepatan saja saya selalu teringat, ada seseorang yang sedang menunggu saya dirumah. Setia menunggu hingga saya kembali. Dan banyak hal-hal yang baru saya sadari bahwa sesungguhnya saya memang sudah bukan lagi saya yang dulu.

Hidup harus terus berjalan. Kenangan masa lalu, manisnya masa-masa muda, pahit dan getirnya, semua adalah kenangan. Seberapapun kerasnya usaha saya, kenangan itu tak pernah hilang. All is a moment to remember. By me, just by myself.

Let the pain for myself, neither my wife nor my childrens would taste the pain.
Sekarang adalah saatnya saya menatap masa depan. Bisa dibilang semua yang saya impikan sudah ada di depan mata. Istri terbaik dan penuh cinta, buah hati yang selalu memberikan saya sensasi menjadi orang tua, rumah, dan banyak hal. Saya cinta hidup saya yang sekarang. Saya percaya bahwa Allah memilihkan jodoh yang terbaik untuk hambaNya. Sesungguhnya walaupun menurut saya baik, namun hanya Allah yang tahu apa yang terbaik untuk saya.

Alhamdulillah...

2 komentar:

dya & eno mengatakan...

hiks...jadi ikutan terharu gus...
kita udah tua ya?? :)

Bagus M Nur S mengatakan...

Iya.. Saatnya perbanyak tabungan abadi...