Senin, 22 Desember 2008

Seorang Ibu, dan Kisahnya Sepanjang Kereta

Liburan minggu tenang kali ini saya rencanakan untuk mudik-mudikan berkeliling singkat. Rutenya Surabaya - Banjarnegara (tempat mertua) - Boyolali (tempat eyang putri) - Ngawi (tempat orang tua) - Surabaya. Rute pertama, dari Surabaya ke Banjarnegara. Terbayang beberapa alternatif perjalanan yang bisa saya tempuh. Saya bisa naik bis lewat Bawen sampai Banjarnegara, bisa naik travel (kalau kepepet), bisa naik bis lewat Jogja dulu, bisa naik kereta lewat Purwokerto, hmm.. pokoknya banyak jalan. Tapi akhirnya saya memilih untuk naik kereta jurusan Bandung, turun di Gombong, ke Purwokerto, baru ke Banjarnegara, bersama teman-teman.

Jujur saja, memang waktu perjalanan saya menjadi lebih panjang. Tapi dasar pribadi sentimentil, saya menikmati kebersamaan bersama kawan-kawan selama perjalanan. Di sana saya benar-benar merasakan makna sebuah persahabatan. Singkat memang, namun kenangan bersama ini yang menurut saya adalah sesuatu yang istimewa. Mungkin sekarang kita tidak akan bisa menilainya, apalagi merasakannya. Namun kelak, suatu saat ketika waktu sudah berlari sedemikian cepatnya, kenangan akan menjadi sesuatu yang sangat tidak ternilai harganya. Itu pula sebabnya saya jarang menolak jika diajak bepergian bersama teman-teman, dengan syarat tidak malah merepotkan saya sendiri (misalnya sampai ditempat sendiri terlalu malam, dan sudah tidak ada lagi angkutan). Selain itu, dalam perjalanan, biasanya masing-masing individu mulai terlihat sifat-sifat aslinya. Di sanalah kita bisa melihat apakah seseorang benar-benar layak untuk kita sebut 'sahabat'.

Biasanya sih, selama perjalanan dengan transportasi umum seringkali waktu saya lebih lama untuk tidur daripada terjaga. Namun tidak kali ini. Kami berangkat dari Stasiun Gubeng pada pagi hari, kira-kira pukul enam pagi. Diatas kereta kebetulan kami mendapatkan tempat duduk di depan seorang ibu-ibu. Ibu inilah yang merubah pakem perjalanan saya kali ini. Sebuah pribadi yang unik, walaupun agak ngaco dan sedikit error. Heh heh.

Ibu ini punya banyak sekali cerita. Sepanjang jalan, dari bibirnya terus mengalir topik-topik pembicaraan yang entah dari mana asalnya tidak ada habisnya. Jika boleh dibuatkan Pie Chart, saya yakin 75%-85% adalah pada porsi beliau, baru sisanya diisi oleh kami. Ada saja ceritanya, mulai dari Roy Marten, pekerjaannya dari BKKBN, BDNI, sampai ke masalah jodoh digulirkan sepanjang jalan.

Rupanya ibu ini mempunyai orangtua 'gado-gado'. Ayah muslim dan ibu katolik. Bahkan saudaranya pun ada yang muslim, meski beliau sendiri penganut katolik. Ibu ini pun punya hobi yang tergolong nyeleneh untuk ibu-ibu, apalagi yang seusia beliau (beliau mengaku berusia lebih dari 50 tahun). Hobinya adalah jalan-jalan ke luar kota. Aneh memang, tapi dari hobi jalan-jalannya tersebut banyak cerita yang bisa digulirkannya sepanjang perjalanan di dalam kereta.

Saya sendiri, belum banyak kisah yang dapat saya ceritakan. Belum banyak tempat yang sudah saya kunjungi. Belum banyak pengalaman yang sudah saya alami. Belum ada apa-apanya pengalaman saya dalam kehidupan ini. Ibu ini, ibu Yuni (atau Yeni, saya lupa, yang saya ingat jelas suaminya bernama Hendrik) seolah mengingatkan saya bahwa hidup jangan hanya diisi dengan rutinitas membosankan semata. Hidup adalah karunia yang harus disyukuri, namun dengan tetap mengingat kematian (istilah beliau, rumah masa depan), agar kita tidak larut dalam godaan-godaan kehidupan.

Hidup adalah pengalaman satu kali (kecuali bagi yang mempercayai adanya reinkarnasi) yang harusnya diisi dengan beragam cerita. Hidup ini tidak harus mendatar seperti layaknya distribusi uniform, ia harus diisi dengan variasi-variasi yang menarik. Jadikan hidup menjadi sebuah time series yang mempunyai variasi seasonal, namun pastikan kurvanya mempunyai kemiringan yang positif. Jangan jadikan hidup menjadi sebuah regresi linear dengan kemiringan positif.

Hingga saat beliau turun di kota Solo, tidak ada lagi yang sedemikian semangat bercerita. Akhirnya kami berempat berkumpul satu kereta berhadapan, dan perbincangan antar sahabat kembali dimulai.

Perjalanan kali ini..

0 komentar: