Senin, 22 Desember 2008

Wedang Ronde is a Mixture Design

Hari Sabtu kemarin, saya tiba di Banjarnegara. Tiba di alun-alun kota, waktu sudah menunjukkan pukul 18.30. Maka saya menuju ke masjid agung untuk sholat maghrib. Masjid agung ini berada tepat di samping alun-alun.

Setelah sholat maghrib, saya segera menelpon istri tercinta. Kerinduan bertemu selama ini hanya dapat tertumpahkan oleh komunikasi suara via handphone saja. Itu pun kalau tidak sedang diganggu oleh buruknya layanan provider kartu yang kami pergunakan. Layanan yang cenderung menurun, tidak begitu jelas dan tidak begitu nyata. Untunglah provider sedang baik hati malam ini.

Setelah menelpon istri, saya menelpon kakak ipar supaya saya dijemput, karena tidak ada lagi angkutan ke rumah pada jam tersebut. Setelah memberitahu posisi, saya segera menuju seorang penjual wedang ronde untuk membunuh waktu. Gerobak dorongnya diparkir di pinggiran alun-alun, dan digelar tikar untuk para pelanggan menikmati wedang rondenya. Sambil memesan satu mangkuk wedang ronde, saya mengajak penjual wedang itu mengobrol.

Penjualnya masih muda, kira-kira berumur 28 tahunan. Ternyata dulunya ia adalah seorang buruh pabrik di Tangerang. Setelah pabrik tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan, ia menganggur tanpa ada pekerjaan lantas pulang ke kampungnya disini. Atas bantuan temannya, ia diajari cara-cara membuat wedang ronde dan mulai berjualan setengah tahun yang lalu. Saya senang melihat semangatnya menghadapi hidup setelah menganggur.

Sekian lama mengobrol, wedang ronde saya sudah habis sedari tadi. Namun entah mengapa tanda-tanda sang penjemput tak kunjung datang. Maka jadilah satu mangkuk lagi siap saya nikmati. Meski pelanggan sudah mulai ramai, anggap saja sekalian membantu mas penjual ronde.

Sambil menikmati wedang ronde kedua, saya teringat konsep mixture design yang baru saja dijadikan bahan tugas oleh dosen saya. Rasa wedang ronde kedua ini agak sedikit berbeda dari yang pertama tadi. Seperti layaknya mixture design, sang penjual sesungguhnya telah menemukan suatu mixture yang khas, mixture yang memberikan rasa enak yang optimal.

Bahannya hanya kacang, hanya agar-agar, hanya roti tawar biasa, hanya air jahe dan gula saja, dengan dua buah ronde (ronde adalah bulatan yang terbuat dari tepung ketan dan diisi semacam tumbukan kacang). Namun sang penjual dibatasi pada ukuran mangkok yang terbatas, dan tentu saja pada biaya produksi per mangkoknya. Jika ia memutuskan untuk menambah roti tawar dalam wedang rondenya, maka bahan lain pasti akan berkurang.

Meski hanya dibuat dari bahan-bahan sederhana, namun dengan mixture yang tepat akan menghasilkan efek yang luar biasa. Interaksi berbagai faktor yang terlibat didalamnya mampu melipatgandakan efek 'enak' menjadi luar biasa. Namun bukan hanya faktor dari wedang rodenya saja, melainkan faktor lain seperti waktu jualannya juga turut mempengaruhi.

Sang penjual telah berhasil menemukan mixture yang tepat bagi kelancaran usahanya mencari rezeki yang halal dari Allah. Meski tidak pula tepat 100%, terbukti rasa wedang ronde saya masih ada sedikit perbedaan (saya agak sensitif merasakan efek jahe), namun kesemuanya masih berada didalam sebuah confidence interval yang masih bisa diterima.

Beliau tidak perlu belajar statistik, juga tidak perlu belajar matematik. Namun sesungguhnya beliau sudah menerapkan konsep tersebut dalam keseharian. Konsep inilah yang sesungguhnya hilang digerus dunia pendidikan. Tidak sedikit lulusan jurusan statistik yang pandai berhitung, namun kurang memahami konseptual secara baik. Akhirnya mereka mengalami kesulitan menghubungkan keilmuan dan dunia nyata.

Ah, kedua mixture saya sudah habis. Saatnya untuk pulang..

0 komentar: