Minggu, 27 Januari 2008

CHKDSK, Aplikasi Ampuh Penyelamat Windows

Seringkali, kita menganggap remeh aplikasi-aplikasi yang secara default ada pada Windows kita. Aplikasi bawaan ini, terutama yang berkaitan dengan security maupun error-fix seringkali dianggap hanya sebagai pelengkap fasilitas Windows saja. Padahal kadangkala aplikasi-aplikasi inilah yang sifatnya krusial. Seperti misalnya fasilitas membuat bootdisk pada Win98 dulu, dan yang baru-baru ini saya alami sendiri adalah fasilitas CHKDSK bawaan Windows XP.

Tempo hari, saya dimintai tolong oleh kawan untuk membetulkan komputernya yang katanya 'rusak'. Sebagai pengguna awam, nampaknya tidak banyak deskripsi yang mampu dia berikan mengenai kerusakan komputernya. Tentu saja jawaban ini tidak memberikan petunjuk pasti mengenai apa yang error di komputernya, sehingga membuat saya tak berhenti bertanya. Setelah sekian lama bertanya, termasuk ngobrol-ngobrol untuk sekedar pancingan, akhirnya ada sedikit petunjuk. Komputernya dapat dinyalakan, keluar post boot message. Hanya saja, komputernya tidak dapat masuk ke Windows, melainkan selalu boot dan boot lagi. Cukuplah ini jadi petunjuk awal.

Karena sibuk, saya tak segera pergi ke rumahnya. Rupanya istri saya yang jadi tak enak hati, karena kawan tadi sering bertemu dengan istri saya. Kemarin, kebetulan kami mau mengecek meubel yang telah dipesan namun tak jua datang, sekalian saja nanti pulangnya mampir ke rumahnya. Akhirnya sambil berjalan ke toko meubel, pulangnya kami mampir ke tempat kawan tadi. Ia langsung tanggap dengan maksud kedatangan saya. Sebelum mengutarakan maksud saya, ia segera mempersilahkan saya untuk ngoprek komputer anaknya.

Ternyata komputer Windows XP yang ada hanya mau masuk sampai pilihan Last Known Good Configuration saja. Apapun pilihan yang dipilih, termasuk Safe Mode atau Safe Mode (With Command Prompt), tetap saja kembali booting ulang. Saya coba cek BIOS, namun ternyata malah tidak mau masuk sama sekali ke BIOS. Sudah berkali-kali dicoba tetap saja tidak bisa masuk. Saya mulai waswas juga, soalnya tak biasanya BIOS tidak bisa masuk. Kemudian saya coba ke pilihan media boot, ternyata masih mau. Segera saya cek dengan Ultimate Boot CD, rupanya masih mau terbaca tapi tidak seluruhnya. Partisi D: bisa terbaca, tetapi partisi C: selalu gagal untuk dibaca, malah ukurannya tidak sesuai.

Kemudian saya coba pula dengan installer Windows XP, saya coba tes pada proses partitioning Windows. Ternyata partisi C: terbaca sebagai Unknown, size 39862 free 39862. Wah, apa benar-benar tidak bisa diselamatkan ya? Sekarang saya mulai agak panik, bukan cuma waswas lagi. Nggak enak juga kalau gagal. Sebagai antisipasi, saya katakan kepada kawan saya tadi ada kemungkinan bahwa datanya tidak bisa diselamatkan. Itu adalah kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.

Setelah itu, berbagai macam program saya coba. Mulai tadi Active Partition Recovery, sampai program untuk recovery data dari Ontrack. Dari kesemuanya, masih juga tidak dapat membaca partisi C: tadi. Yang agak mendekati sukses agaknya program dari Ontrack tadi. Hanya saja, seperti namanya ia bertujuan mengambil data dari drive C: saja. Padahal yang diinginkan adalah supaya partisinya bisa normal kembali.

Disaat sudah hampir pasrah, bahkan opsi install ulang pun sudah dibicarakan, saya teringat CHKDSK. Program simpel ini konon dapat memperbaiki partisi yang index-nya rusak akibat putusnya listrik secara mendadak. Dan, benar saja, dari tiga tahap pengecekan pada saat proses kedua ditemukan beberapa yang Unreadable namun proses dapat terus berlanjut. Setelah proses terakhir selesai, segera saya coba untuk boot ulang masuk ke Windows.

Akhirnya, kisah ini berakhir dengan happy ending. Windows sudah dapat berjalan normal, dan tidak ada masalah lagi. Pengalaman ini mengajarkan saya, ternyata tidak semua aplikasi bawaan itu cemen. CHKDSK ternyata merupakan aplikasi ampuh penyelamat Windows XP.

Saatnya Upgrade Memori!

Melihat kecenderungan saat ini, rasanya ini adalah saat yang tepat untuk mengganti memori. Setidaknya ada dua hal yang menurut saya menjadi alasan kuat untuk mengganti memori.

1. Kebutuhan software yang semakin menggila

Dulu, mungkin tidak pernah kita bayangkan ada PC yang mempunyai memori 1Gb atau lebih. Rasa-rasanya 32Mb saja sudah cukup untuk menjalankan berbagai aplikasi saat itu. Saya sempat mencicipi komputer Pentium III bersama saat masih di kontrakan menggunakan Windows 98SE dengan harddisk hanya 4Gb dan memori 32Mb, dan rasanya kinerjanya sudah cukup memuaskan. Kemudian setelah saya mempunyai rezeki akhirnya saya membeli komputer sendiri AMD Athlon 1200 menggunakan Windows XP dengan harddisk 30Gb dan memori 128Mb. Itupun bagi saya sudah sangat memuaskan, karena semua game-game bisa saya mainkan mulai dari Age Of Mythology, Neverwinter Night, Ghost Recon, Enclave, dan masih banyak lagi. Saya kemudian menambahkan RAM sehingga menjadi 256Mb, dan performanya sangat memuaskan. Rasanya sudah cukup canggihlah untuk saya sebagai pengguna biasa.

Namun sekarang, semua pembuat software seolah kesetanan membuat software yang tujuan utamanya adalah 'menghabiskan resource komputer', baru tujuan kedua untuk mengerjakan satu tugas tertentu. Sekarang, resource seakan menjadi sesuatu yang tidak memiliki arti. Jangan berharap punya komputer jika tidak memiliki resource yang melimpah. Atau lebih ekstrimnya lagi, jangan berharap punya komputer jika tidak memiliki uang yang berlimpah. Untuk beli perangkat keras yang mempunyai resource melimpah, serta untuk membeli lisensi program-program yang semakin tinggi.

Coba saja lihat, kita bandingkan software-software versi jadul seperti misalnya WinAMP 2.9, Nero 6, MS Office 2000, ACDSee 3.1, dengan versi terakhirnya WinAMP 5, Nero 8, MS Office 2007, dan ACDSee 8 (masih ada versi yang lebih baru lagi!) misalnya. Dulu aplikasi-aplikasi ini datang dengan kekhususan dan spesialisasi sesuai dengan apa yang kita minta. WinAMP hanya untuk mendengar lagu, Nero hanya untuk burning CD, ACDSee hanya untuk melihat gambar. Begitu juga dengan tampilannya, sederhana, mudah dipahami, dan benar-benar simpel sesuai dengan tujuan. Sekarang, WinAMP pun bisa untuk melihat film, Nero bahkan juga bisa untuk memainkan multimedia, ACDSee berusaha untuk bisa mengedit gambar, dan banyak lagi!

Jadi di komputer kita sekarang sebenarnya terinstall banyak junk (kurang cocok jika diterjemahkan sebagai sampah, walaupun mirip). Kenapa? Ya, seperti junkfood yang hanya membuat badan gendut tidak sehat, komputer pun menjadi gendut tidak sehat karena banyak program-program yang sebenarnya tidak berguna (bagi kita) namun ikut ter-install di komputer kita. Apa kita selalu mendengarkan multimedia menggunakan WinAMP, Windows Media Player (masih mungkin), apalagi Nero? Apa ACDSee sudah cukup ampuh untuk mengedit program, atau cuma menambah beban core prosess yang ditempeli aksesoris oleh ACDSee (seperti misalnya pada dialog Open)?

Bahkan terkadang untuk menambah program agar terlihat lebih cantik, akhirnya software requirement menjadi bertambah. MS Office 2007 bahkan mensyaratkan Service Pack 2 jika ingin diinstall pada Windows XP (jangan lupa, karena ia dibangun dengan .NET otomatis memerlukan .NET yang otomatis akan diinstalkan olehnya), sedangkan MS Office 2000 cukup nrimo ing pandum.

2. Harga memori yang semakin murah

Akhir-akhir ini, tren harga memori sepertinya mengalami penurunan yang cukup signifikan. Saya sebenarnya tidak terlalu intensif dalam memonitor harga semua perangkat keras, khususnya harga memori. Namun dari tawaran-tawaran yang sering saya lihat, nampaknya memang ada penurunan pada harga memori, terutama DDR2. Saya bahkan baru-baru ini membeli memori 1Gb untuk laptop saya hanya seharga Rp 225.000,- saja di Bengkulu. Namun soal harga tentu saja bervariasi bergantung pada banyak hal.

Komponen komputer lain sesungguhnya juga banyak yang mengalami penurunan harga, namun tidak sebesar penurunan harga memori. Harddisk misalnya, sekarang harga per Gb menjadi semakin murah, namun untuk nominal rupiahnya penurunannya relatif kecil. Sementara untuk motherboard, prosesor, nampaknya jangan terlalu berharap. Untuk harddisk dan memori saja, yang penurunannya cukup terasa adalah yang berkapasitas besar. Berarti untuk RAM 128Mb atau 256Mb tidak terlalu terasa penurunannya.

Saya pribadi cukup puas dengan MS Office 2000 dari kantor dan WinAMP 2.9. Biarlah software berjalan seperti apa yang seharusnya mereka diciptakan untuk itu, jangan sampai melenceng tak tentu arah dan bermacam-macam fungsi yang sesungguhnya hanya pengayaan saja. Setidaknya di laptop saya. Jangan sampai memori 1Gb tadi hanya habis untuk hal-hal yang tidak ada faedahnya.

Jadi, saatnya upgrade memori!

Kamis, 24 Januari 2008

Xubuntu n Repository Pesanan Saya

Akhirnya setelah lama menunggu, datang juga pesanan saya dari Juragan Kambing. Satu CD Xubuntu Gutsy Gibbon (7.10), distro Ubuntu yang menggunakan Xfce, serta satu set (5 DVD) Repository Ubuntu 7.10 untuk menginstall program-program tambahan. Pesanan dikirimkan melalui TIKI, namun herannya cukup lama juga sampai di tangan saya. Padahal dari Jakarta ke Bengkulu mestinya tidak ada masalah karena sama-sama di ibukota propinsi. Mungkin untuk menekan biaya kirim, jadi menggunakan layanan pengiriman yang paling ekonomis, namun akibatnya ya.. jadi agak lama gitu. Hehe.

Ya sudahlah.

Singkat cerita saya segera bongkar muat paket tersebut. Namun agak kecewa juga melihat hasil burningnya, karena terkesan alakadarnya. Memang sih media yang digunakan adalah Sony, kecuali CDnya yang menggunakan TDK, namun kurang sepadan dengan proses lainnya. CD datang dengan tulisan spidol begitu saja tanpa disertai stiker atau CD label. Kemudian burningnya yang katanya sudah menggunakan DVD Replicator, namun ternyata hampir sama dengan menggunakan DVD Writer. Karena saya membayangkan bahwa hasilnya seperti CD-CD bajakan itu yang sama sekali tidak terlihat jejak track-nya di permukaan CD. O'on juga nih saya. Hehe..

Tapi bagaimanapun juga, saya berterima kasih kepada mereka karena dedikasi mereka yang tinggi dalam memajukan dunia OpenSource di Indonesia kita yang serba kekurangan fasilitas dan dukungan dari pemerintah. Saya nggak bisa membayangkan harus download 5 DVD Repository itu dengan koneksi Telkomnet Instan di kantor yang tat-tit-tut, kadang konek kadang putus.

So, seperti semangat BPS yang mencoba untuk menggunakan software legal, saya sangat bersemangat untuk menginstall Xubuntu. Mengingat dari semua distro yang saya punya, sejauh ini baru Ubuntu dan turunannya (termasuk BlankOn kemarin) yang bisa keluar X di laptop Celeron saya. Ada sih Damn Small Linux yang juga bisa, namun tidak dapat digunakan karena kurang portabel untuk bertukar file hasil kerja dengan komputer kantor.

Saat itu juga langsung saya install Xubuntu, mengingat partisi ext3 bekas BlankOn dulu masih utuh termasuk swapnya. Jadi proses instalasinya lebih nyaman tanpa harus takut partisi hilang. Karena semangatnya, juga karena yakin, saya malah tidak memback-up partisi data saya. Bagi yang belum tahu, installer Ubuntu dan turunannya memiliki program partisi yang agak rumit dan sedikit sekali opsi yang ditampilkan, mungkin karena saya lebih sering menggunakan (menginstall, maksudnya.. hehe) Mandrake.

Ada satu masalah lagi, gimana yah menggunakan DVD Repositorynya? Masa masih harus mengedit file listnya? Cape deeh... Memang, saya bukan pengguna Linux mania.

Kutak-katik-kutak-katik akhirnya ketemu juga caranya lewat Software Resources ada tombol "Add CD". Tapi ternyata harus urut dan tidak boleh error. Terbukti saya dua kali error dan harus mengulang dari awal setelah menghapus /var/lib/apt/cdrom.list dan entry pada /var/lib/apt/lists. Baru pada ketiga kali saya bisa memasukkan lima DVD dengan urut dan tidak error dibaca. Setelah itu, barulah tadi saya sukses menginstall Wine. Nyoba satu program dulu...

Semua tampak OK, tampilan lancar, sound juga bunyi walau Totem belum bisa memainkan mp3. Kartu jaringan juga sudah terbaca. Namun ternyata ada satu yang tidak bisa, modem laptop tidak terdeteksi, apalagi berfungsi. Terpaksa masih pakai XP dikantor untuk ngenet, termasuk nge-blog. Untung kantor ada XP Original. He.

Yah, lebih baik berusaha daripada tidak sama sekali.

Selasa, 22 Januari 2008

Upgrade Memori 1Gb

Kemarin saya membeli memori baru merk Visipro DDR2 1Gb. Langsung saya minta tokonya untuk memasangkan di laptop saya. Bukan apa-apa, saya agak kesulitan membuka penutup RAM laptop saya. Jadi daripada patah tutupnya, mending kan diserahkan pada ahlinya (tukangnya, maksudnya.. hehe). Tukang itu dengan sigapnya memasang RAM, namun kemudian dengan katro-nya (o'on gitu maksudnya..) memencet-mencet layar laptop saya. Maksudnya sih, menunjukkan bahwa di BIOS memori baru sudah terbaca.

Ah, yo wis!

Kemudian Windows XP saya boot ulang, karena selalu gagal untuk kembali On dari modus Hibernate. Mungkin karena ada perubahan ukuran memori, sehingga Windows kebingungan saat mengisi memori yang ukurannya jauh membesar dari 256Mb menjadi 1070Mb (1Gb + 256Mb). Setelah boot ulang, Windows menjadi jauh lebih cepat dari sebelumnya meskipun swapfile dan lain-lain yang manual belum berubah.

Akhirnya saya mencoba-coba lagi menggunakan WindowBlinds 5.5 (yang menurut saya lebih baik daripada versi 6-nya) plus skin Aero yang saya cungkil dari Vista Style Pack dulu. Endhaang.. Nendang!

Timbul lagi iseng-iseng untuk mencoba Windows Vista. Saya segera install, format C:, dan (singkat cerita) selesai. Vista dapat berjalan dengan ringan meskipun hanya Celeron. Saya gunakan beberapa lama, sampai saya terheran-heran, untuk OS-nya saja Vista menghabiskan 6Gb lebih. Sehingga partisi yang 9,5Gb hanya tinggal beberapa Giga saja. Waduh, alamat mesti balik nih ke XP. Karena saya berencana menginstall Xubuntu juga, jadi dual OS gitu. Dulu (sebelum upgrade memori) saya pakai BlankOn 2.0 rasanya kok lemot banget. Apalagi saya sudah terlanjur pesan Xubuntu sama DVD Repository-nya Ubuntu di Juragan Kambing.

Singkat cerita, saya restore kembali XP saya dari backup image saya. Kemudian saya customize sendiri, install Sandboxie, AVGFree, WindowBlinds, bla.. bla.. bla. Termasuk saya matikan service-service yang tidak perlu. Tak lupa saya format partisi data saya (data sudah diamankan), karena rupanya Vista membuat direktori khusus yang agak mengganggu jalannya Explorer termasuk Recycle Bin di XP. Sistem berjalan normal.

Kemudian karena ada keperluan, saya menginstall program pengolahan SBH07-S di Celeron ini. Belum sempat install Client, saat install Server (database menggunakan PostgreSQL 8.0), installer dari pusat selalu gagal pada saat proses initdb. Putus harapan, saya restore lagi XP. Kemudian langsung install program pengolahan. Dan berjalan mulus.

Mulus?

Karena penasaran, saya ulangi restore XP lagi. Pikiran saya ada tiga kemungkinan, crack pada WindowBlinds (dasar program bajakan, menyusahkan!), Sandboxie, atau ada service yang perlu namun terlanjur saya matikan. Sebelumnya saya juga pernah mencoba WindowBlinds bajakan versi sebelumnya di komputer lain, dan lucunya gara-gara cracknya yang mungkin ada yang terlewat oleh pembuatnya maka tombol mouse kanan menjadi tidak berfungsi selama menggunakan Windows. Sandboxie adalah program baru yang saya coba, namun sebenarnya tidak memberikan manfaat yang cukup signifikan.

Setelah restore, saya kustomisasi plus install semua aplikasi yang diperlukan. Saya bahkan menginstall juga TinyResMeter, ABs Wallpaper Tray semacam Wallpaper Changer yang dilengkapi Jam Analog sangat sederhana, AVGFree, dan setting Local Security Policy. Namun TANPA Sandboxie, WindowBlinds, dan tidak mengutak-atik Services (toh tanpa diutak-atik pun sudah cukup cepat dengan memori 1Gb lebih).
 
Saya install program pengolahan, dan semua berjalan mulus termasuk install Client dan patch-patch yang ada. Jadi saya biarkan saja settingan swapfile, dan lain-lain tidak diutak-atik. Walaupun sebenarnya masih agak sedikit penasaran.

Initdb gagal karena Sanboxie, WindowBlinds, atau service yang mati?

Bye Bye Adobe Reader...

Dulu, saat saya pertama kali menggunakan komputer. Saat melihat file PDF, saya selalu setia dengan program Adobe Acrobat Reader 4.0. Seiring waktu berjalan, saya justru lebih familiar dengan versi 5. Adobe Acrobat Reader 5.5 seolah menjadi sahabat setia saya mengarungi lautan ilmu yang terkungkung dalam bentuk PDF.

Dulu sih welcome saja, karena memang butuhnya itu dan tahunya itu. Tak ada lain.

Kemudian versi terus berubah hingga menjadi versi 6, kemudian versi 7 dan versi 8. Namanya pun berganti menjadi Adobe Reader (tanpa ada kata-kata Acrobat lagi). Dan yang paling terasa bagi saya adalah kebutuhan resource yang semakin menggila. Hanya untuk sekedar membaca saja, kita harus punya komputer canggih, melihat loadingnya yang cantik tapi lemot.

Sekarang, saya menggunakan Foxit Reader untuk membaca PDF. Benar-benar hanya untuk membaca, bukan yang lainnya. Saya bahkan tak sempat melihat logonya saat loading. Tampilannya pun termasuk user-friendly, dengan tidak dibebani hal-hal lain. Iklan yang ada di sudut kanan atas benar-benar kecil (1cm x 5cm), sehingga tidak memperlambat program.

Bye Bye Adobe Reader...