Kamis, 25 Desember 2008

Memanipulasi E(x) Lewat Sinetron

Melihat sinetron-sinetron televisi Indonesia saat ini, saya benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana mungkin para penonton Indonesia yang katanya semakin cerdas itu, menonton sinetron-sinetron yang bermetamorfosa dari satu judul ke judul lain. Dengan bermacam konflik yang dibuat-buat, juga jalan cerita yang sesungguhnya dapat ditarik tambang merah (terlalu nyata untuk disebut sebagai benang merah) dari semua judul-judul itu. Bagaimana tidak, terkadang selain dari sisi cerita hampir sama, juga para pemainnya pun masih menggunakan muka-muka yang itu-itu saja. Perbedaan yang ada sangatlah remeh, misalnya tokoh utamanya dari semula berjualan koran, dalam cerita lain berjualan somay.

Hal tersebut masih diperparah dengan kebiasaan 'khas' Indonesia (apa iya?) yang latah dan suka aji mumpung. Latah, karena semua menawarkan sesuatu yang 'tiru-tiru' dari kesuksesan pihak lain. Lihat saja, saat 'musim'-nya maka semua sinetron diawali dengan kata Cinta, Cinta F****, Cinta B****, atau entah mungkin juga ada Cinta Bejo dan Cinta Paijo? Begitu juga saat musimnya adalah menggunakan nama tokohnya, maka semua judulnya menggunakan nama tokoh utama, mungkin ada sinetron berjudul 'Paimin' dan 'Paijo'?

Jika satu sinetron sudah dianggap 'sukses', maka diperpanjanglah sinetron tersebut dengan berbagai cara. Dibuatlah konflik-konflik benang kusut, jika perlu dibuat sinetron berseri, seri 1, seri 2, dan seterusnya. Yang lebih tidak tahu malu adalah sinetron-sinetron 'ramadhan' yang bahkan tak kunjung habis meskipun sudah hampir memasuki tahun baru. Jika diperhatikan, konflik yang 'dipaksakan' pun sebenarnya itu-itu saja. Orang kaya yang mencintai orang miskin, orang miskin yang ternyata anak orang kaya, perebutan harta kekuasaan, pokoknya mirip-mirip seperti itu.

Sinetron Indonesia jelas tidak menganut konsep random, atau setidaknya semua materi mempunyai kesempatan yang sama untuk tampil. Sinetron Indonesia juga tidak menganut konsep distribusi normal, dimana masalah yang paling rumit ditampilkan sedikit dan masalah-masalah biasa ditampilkan lebih besar porsinya. Bukan, bukan itu. Sinetron Indonesia (mungkin) menganut konsep terboboti (weighted). Semakin besar efeknya terhadap rating, maka akan semakin sering porsinya muncul di televisi.

Inilah sebabnya maka kita dapat memanipulasi E(x) lewat sinetron.

Dalam dunia statistika, kita mengenal konsep expectation value. Expectation value sering diterjemahkan sebagai nilai harapan, dan dituliskan sebagai E(x). Sesuai namanya, nilai harapan adalah menggambarkan harapan nilai yang dicapai dari sesuatu. Misalkan kita mempunyai distribusi binomial, dimana peluang suatu kejadian terjadi adalah sebesar p=0,4, dan binomial ini ada sebanyak n=30. Statistikawan mengerti jika rata-ratanya adalah sama dengan nilai harapannya, dimana untuk kasus ini adalah sebesar n kali p, tepatnya sebanyak 12. Ini berarti 12 dari 30 akan mengalami suatu kejadian, atau 2 dari 5 (mirip iklan bukan?). Jangan lupa, statistika mengagungkan konsep random serta distribusi normal.

Katakanlah kita definisikan x adalah jumlah wanita yang hamil di luar nikah, p adalah peluang wanita (belum menikah) untuk hamil diluar nikah, dan n adalah populasi wanita (belum menikah). Secara pasti kita tidak tahu, berapa jumlah x. Bahkan lewat sensus penduduk pun tidak mungkin (tanya kenapa?). Namun kita dapat memperkirakan dengan menggunakan E(x). Ini benar secara teori statistik. Namun sayangnya Indonesia mempunyai jauh lebih banyak penonton sinetron daripada statistisi.

Sinetron mengeksploitasi masalah/konflik rumit diberikan porsi maksimal, sehingga seolah-olah pemeran utama selalu ditimpa masalah pelik. Wajar saja, karena sinetron tidak menganut distribusi normal. Sinetron juga memblow-up masalah-masalah yang (kira-kira) menaikkan rating saja, bukan lagi random. Wanita hamil di luar nikah, ternyata adalah salah satu hal yang bisa menaikkan rating. Maka skenario tersebut kini sudah lumrah digunakan di sinetron Indonesia.

Dengan dihantam sinetron bertubi-tubi, maka bukan tidak mungkin akan muncul anggapan bahwa hamil di luar nikah sekarang adalah hal biasa. Atau dengan istilah lain, jika dulu hamil di luar nikah adalah kejadian tabu (sehingga nilai p kecil), maka sekarang hamil di luar nikah adalah biasa (nilai p sekarang lebih besar). Maka seolah-olah persepsi yang terbentuk yakni E(x) sekarang lebih besar daripada E(x) dulu. Ini hanya persepsi, sehingga belum tentu benar. Namun yakinlah E(x) mendatang pasti akan lebih besar, karena persepsi menipu tadi akan menjadikan kasus hamil di luar nikah menjadi hal yang tidak terlalu menyeramkan lagi.

Hamil di luar nikah, siapa takut? (kurang lebih, begitu..)

Mau...?

Senin, 22 Desember 2008

Wedang Ronde is a Mixture Design

Hari Sabtu kemarin, saya tiba di Banjarnegara. Tiba di alun-alun kota, waktu sudah menunjukkan pukul 18.30. Maka saya menuju ke masjid agung untuk sholat maghrib. Masjid agung ini berada tepat di samping alun-alun.

Setelah sholat maghrib, saya segera menelpon istri tercinta. Kerinduan bertemu selama ini hanya dapat tertumpahkan oleh komunikasi suara via handphone saja. Itu pun kalau tidak sedang diganggu oleh buruknya layanan provider kartu yang kami pergunakan. Layanan yang cenderung menurun, tidak begitu jelas dan tidak begitu nyata. Untunglah provider sedang baik hati malam ini.

Setelah menelpon istri, saya menelpon kakak ipar supaya saya dijemput, karena tidak ada lagi angkutan ke rumah pada jam tersebut. Setelah memberitahu posisi, saya segera menuju seorang penjual wedang ronde untuk membunuh waktu. Gerobak dorongnya diparkir di pinggiran alun-alun, dan digelar tikar untuk para pelanggan menikmati wedang rondenya. Sambil memesan satu mangkuk wedang ronde, saya mengajak penjual wedang itu mengobrol.

Penjualnya masih muda, kira-kira berumur 28 tahunan. Ternyata dulunya ia adalah seorang buruh pabrik di Tangerang. Setelah pabrik tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan, ia menganggur tanpa ada pekerjaan lantas pulang ke kampungnya disini. Atas bantuan temannya, ia diajari cara-cara membuat wedang ronde dan mulai berjualan setengah tahun yang lalu. Saya senang melihat semangatnya menghadapi hidup setelah menganggur.

Sekian lama mengobrol, wedang ronde saya sudah habis sedari tadi. Namun entah mengapa tanda-tanda sang penjemput tak kunjung datang. Maka jadilah satu mangkuk lagi siap saya nikmati. Meski pelanggan sudah mulai ramai, anggap saja sekalian membantu mas penjual ronde.

Sambil menikmati wedang ronde kedua, saya teringat konsep mixture design yang baru saja dijadikan bahan tugas oleh dosen saya. Rasa wedang ronde kedua ini agak sedikit berbeda dari yang pertama tadi. Seperti layaknya mixture design, sang penjual sesungguhnya telah menemukan suatu mixture yang khas, mixture yang memberikan rasa enak yang optimal.

Bahannya hanya kacang, hanya agar-agar, hanya roti tawar biasa, hanya air jahe dan gula saja, dengan dua buah ronde (ronde adalah bulatan yang terbuat dari tepung ketan dan diisi semacam tumbukan kacang). Namun sang penjual dibatasi pada ukuran mangkok yang terbatas, dan tentu saja pada biaya produksi per mangkoknya. Jika ia memutuskan untuk menambah roti tawar dalam wedang rondenya, maka bahan lain pasti akan berkurang.

Meski hanya dibuat dari bahan-bahan sederhana, namun dengan mixture yang tepat akan menghasilkan efek yang luar biasa. Interaksi berbagai faktor yang terlibat didalamnya mampu melipatgandakan efek 'enak' menjadi luar biasa. Namun bukan hanya faktor dari wedang rodenya saja, melainkan faktor lain seperti waktu jualannya juga turut mempengaruhi.

Sang penjual telah berhasil menemukan mixture yang tepat bagi kelancaran usahanya mencari rezeki yang halal dari Allah. Meski tidak pula tepat 100%, terbukti rasa wedang ronde saya masih ada sedikit perbedaan (saya agak sensitif merasakan efek jahe), namun kesemuanya masih berada didalam sebuah confidence interval yang masih bisa diterima.

Beliau tidak perlu belajar statistik, juga tidak perlu belajar matematik. Namun sesungguhnya beliau sudah menerapkan konsep tersebut dalam keseharian. Konsep inilah yang sesungguhnya hilang digerus dunia pendidikan. Tidak sedikit lulusan jurusan statistik yang pandai berhitung, namun kurang memahami konseptual secara baik. Akhirnya mereka mengalami kesulitan menghubungkan keilmuan dan dunia nyata.

Ah, kedua mixture saya sudah habis. Saatnya untuk pulang..

Seorang Ibu, dan Kisahnya Sepanjang Kereta

Liburan minggu tenang kali ini saya rencanakan untuk mudik-mudikan berkeliling singkat. Rutenya Surabaya - Banjarnegara (tempat mertua) - Boyolali (tempat eyang putri) - Ngawi (tempat orang tua) - Surabaya. Rute pertama, dari Surabaya ke Banjarnegara. Terbayang beberapa alternatif perjalanan yang bisa saya tempuh. Saya bisa naik bis lewat Bawen sampai Banjarnegara, bisa naik travel (kalau kepepet), bisa naik bis lewat Jogja dulu, bisa naik kereta lewat Purwokerto, hmm.. pokoknya banyak jalan. Tapi akhirnya saya memilih untuk naik kereta jurusan Bandung, turun di Gombong, ke Purwokerto, baru ke Banjarnegara, bersama teman-teman.

Jujur saja, memang waktu perjalanan saya menjadi lebih panjang. Tapi dasar pribadi sentimentil, saya menikmati kebersamaan bersama kawan-kawan selama perjalanan. Di sana saya benar-benar merasakan makna sebuah persahabatan. Singkat memang, namun kenangan bersama ini yang menurut saya adalah sesuatu yang istimewa. Mungkin sekarang kita tidak akan bisa menilainya, apalagi merasakannya. Namun kelak, suatu saat ketika waktu sudah berlari sedemikian cepatnya, kenangan akan menjadi sesuatu yang sangat tidak ternilai harganya. Itu pula sebabnya saya jarang menolak jika diajak bepergian bersama teman-teman, dengan syarat tidak malah merepotkan saya sendiri (misalnya sampai ditempat sendiri terlalu malam, dan sudah tidak ada lagi angkutan). Selain itu, dalam perjalanan, biasanya masing-masing individu mulai terlihat sifat-sifat aslinya. Di sanalah kita bisa melihat apakah seseorang benar-benar layak untuk kita sebut 'sahabat'.

Biasanya sih, selama perjalanan dengan transportasi umum seringkali waktu saya lebih lama untuk tidur daripada terjaga. Namun tidak kali ini. Kami berangkat dari Stasiun Gubeng pada pagi hari, kira-kira pukul enam pagi. Diatas kereta kebetulan kami mendapatkan tempat duduk di depan seorang ibu-ibu. Ibu inilah yang merubah pakem perjalanan saya kali ini. Sebuah pribadi yang unik, walaupun agak ngaco dan sedikit error. Heh heh.

Ibu ini punya banyak sekali cerita. Sepanjang jalan, dari bibirnya terus mengalir topik-topik pembicaraan yang entah dari mana asalnya tidak ada habisnya. Jika boleh dibuatkan Pie Chart, saya yakin 75%-85% adalah pada porsi beliau, baru sisanya diisi oleh kami. Ada saja ceritanya, mulai dari Roy Marten, pekerjaannya dari BKKBN, BDNI, sampai ke masalah jodoh digulirkan sepanjang jalan.

Rupanya ibu ini mempunyai orangtua 'gado-gado'. Ayah muslim dan ibu katolik. Bahkan saudaranya pun ada yang muslim, meski beliau sendiri penganut katolik. Ibu ini pun punya hobi yang tergolong nyeleneh untuk ibu-ibu, apalagi yang seusia beliau (beliau mengaku berusia lebih dari 50 tahun). Hobinya adalah jalan-jalan ke luar kota. Aneh memang, tapi dari hobi jalan-jalannya tersebut banyak cerita yang bisa digulirkannya sepanjang perjalanan di dalam kereta.

Saya sendiri, belum banyak kisah yang dapat saya ceritakan. Belum banyak tempat yang sudah saya kunjungi. Belum banyak pengalaman yang sudah saya alami. Belum ada apa-apanya pengalaman saya dalam kehidupan ini. Ibu ini, ibu Yuni (atau Yeni, saya lupa, yang saya ingat jelas suaminya bernama Hendrik) seolah mengingatkan saya bahwa hidup jangan hanya diisi dengan rutinitas membosankan semata. Hidup adalah karunia yang harus disyukuri, namun dengan tetap mengingat kematian (istilah beliau, rumah masa depan), agar kita tidak larut dalam godaan-godaan kehidupan.

Hidup adalah pengalaman satu kali (kecuali bagi yang mempercayai adanya reinkarnasi) yang harusnya diisi dengan beragam cerita. Hidup ini tidak harus mendatar seperti layaknya distribusi uniform, ia harus diisi dengan variasi-variasi yang menarik. Jadikan hidup menjadi sebuah time series yang mempunyai variasi seasonal, namun pastikan kurvanya mempunyai kemiringan yang positif. Jangan jadikan hidup menjadi sebuah regresi linear dengan kemiringan positif.

Hingga saat beliau turun di kota Solo, tidak ada lagi yang sedemikian semangat bercerita. Akhirnya kami berempat berkumpul satu kereta berhadapan, dan perbincangan antar sahabat kembali dimulai.

Perjalanan kali ini..

Penduga Parameter Terbaik

Dalam Statistika Matematika, dikenal 3 cara yang umum digunakan untuk mencari penduga parameter terbaik. Tidak ada yang bisa mengatakan bahwa salah satu terbaik dari yang lainnya. Ketiga cara tersebut adalah Metode Momen, Least Square, dan Maximum Likelihood Estimator.

Metode momen pada prinsipnya adalah menggunakan sifat-sifat momen untuk memastikan bahwa parameter yang kita dapatkan adalah parameter yang terbaik. Pada metode momen ini cara kerjanya kurang lebih dengan menganggap bahwa momen-momen sampel sama dengan momen-momen pada populasi dan hasilnya terbaik.

Metode lainnya adalah metode Least Square. Dalam regresi kadang-kadang metode ini disebut juga metode Ordinary Least Square, untuk membedakan dengan Weighted Least Square. Pada metode Least Square, prinsipnya adalah mencari penduga yang dapat meminimalkan kuadrat errornya. Mengapa? Tentunya kita ingin melakukan sesuatu dengan hanya sedikit kesalahan. Oleh karena itu kita berusaha untuk mendapatkan kuadrat error yang paling kecil.

Pertanyaan yang kadang terlewat bagi kita, adalah: mengapa harus kuadrat? Mengapa bukan error saja? Atau pangkat tiga? Pangkat empat? Atau nilai mutlak dari error? Ternyata penjelasannya secara matematis saja. Dalam matematika, kita akan lebih mudah jika menggunakan kuadrat daripada semua alternatif tersebut.

Pada fungsi kuadrat, kita dapat mencari nilai minimumnya dengan menggunakan turunan pertama. Dengan turunan pertama kita akan mendapatkan nilai yang 'spesial', bisa minimum, maksimum, atau titik belok. Maka, untuk meyakinkan bahwa nilai yang kita dapat tadi adalah minimum, kita cukup membuktikan bahwa turunan keduanya adalah positif.

Metode alternatif lain yaitu menggunakan metode Maximum Likelihood Estimator. Pada metode ini kita justru ingin memaksimumkan fungsi Likelihood dari suatu fungsi. Kalau kita sedikit buka-buka kamus, Likelihood itu berarti 'kemungkinan'. Analoginya dengan memaksimalkan kemungkinan (fungsi likelihood) maka diharapkan kita akan mendapatkan sampel yang mempunyai kemungkinan paling banyak, artinya paling sering muncul dan paling dikenal.

Untuk memaksimumkan fungsi Likelihood, kita dapat menggunakan beberapa cara. Kita dapat menggunakan derivatif/turunan, definisi optimum, dan fungsi-fungsi dimana parameter tersebut tidak ada. Dalam keseharian, biasanya penggunaan derivatif/turunan lebih sering digunakan. Prinsipnya, yang diusahakan adalah dengan metode derivatif/turunan, jika mengalami kesulitan, baru kemudian menggunakan metode selain derivatif. Seperti biasa, agar menjadi semaksimum mungkin dicari turunan pertamanya dahulu. Kemudian untuk membuktikan bahwa ia benar-benar maksimum, digunakanlah turunan kedua.

Baru ngeh sekarang nih, kemana aja dulu waktu kuliah ya. Malu sendiri, hehe..

Sabtu, 13 Desember 2008

A Moment To Remember...

Pulang kuliah, siang-siang rasanya mau teler aja. Namun sebelum teler, perut minta jatahnya untuk diisi. Apa boleh baut, eh buat, jadinya mampir dulu di Bonek. Bonek adalah warung makan langganan saya hampir setiap pulang kuliah atau jika siang hari. Sampai disana kebetulan suasananya tidak begitu ramai. Wah, siplah untuk makan siang. Karena kalau terlalu ramai, rasanya tidak nikmat lagi makan (tetep enak juga sih, wong laper!).

Makanan pesanan sudah siap di piring saya, nasi plus sayur-mayur plus ayam mati. Tak lupa sedikit sambal supaya tidak rugi para penanam cabe di negeriku Indonesia ini. Es teh menyusul kemudian, biasanya diantarkan ke meja makan. Saya memilih tempat didekat dua orang remaja muda-mudi yang sedang mengobrol.

Saya makan. Bagian ini rasanya tak perlu untuk saya ceritakan lebih lanjut.

Kemudian seperti biasa, sehabis makan saya menghabiskan ayam yang masih tersisa di piring saya. Sambil makan saya sempat mendengarkan celotehan mereka. Remaja-remaja tanggung yang merasa keren dengan sapaan 'lu', 'gue'. Mereka bercerita panjang lebar.

Mereka bercerita tentang pengalaman liburannya kemarin naik kendaraan masing-masing memecah kemacetan di jalur ibukota. Mulai dari malesnya (awalnya pasti males-malesan kan?), kerepotannya, kebut-kebutannya. Ah, saya dulu juga begitu. Saya lantas teringat masa-masa dimana saya suka memacu GL Max ayah secepat mungkin. Menyalip para pengendara cemen, sampai bis-bis AKAP Surabaya-Solo.

Cerita lain bergulir tentang hobi mereka bermain musik. Kebiasaan 'hang out' dan jalan-jalan bareng. Ah, saya dulu juga begitu. Saya lantas teringat masa-masa saya menjadi additional player di salah satu komunitas anak-anak pabrik gula. Saya teringat masa-masa saya merengkuh gitar, bas, apalagi keyboard karena yang lain kurang begitu familiar dengan alat musik satu ini. Sebetulnya saya punya band sendiri, namun justru jam main saya lebih banyak sebagai additional player.

Lantas mereka bercerita mengenai kerepotan mereka dengan pasangannya masing-masing. Ah, saya dulu juga begitu. Saya bahkan kerepotan membagi waktu untuk pacar-pacar saya dulu. Lantas saya teringat dengan seseorang yang demikian sabar, walaupun akhirnya terkikis oleh saya, kemarahan saya, dan keangkuhan saya. Saya dan ego saya yang sedang puncak-puncaknya. Satu hal yang selalu saya sesali, sampai detik ini.

Sambil tertawa, mereka bercerita tentang hal-hal error. Lebih tepatnya ndablek. Ah, saya dulu juga begitu. Mungkin teman-teman saya sekarang tidak percaya bahwa saya dulu error sekali. Mungkin karena patah hati, plus gejolak pencarian diri, plus plus lainnya. Sedemikian errornya sampai beberapa teman merasa perlu memberikan saya 'terapi' khusus, perlakuan khusus. Just to be spesial. Dan sekarang saya baru menyadari, betapa baiknya mereka.

Saya termenung sendiri. "Ah, saya dulu juga begitu". Kalimat ini sontak menghentak jwa saya sendiri...

"Ternyata, saya sudah tua."

Dulu. Ya, itu berarti sekarang saya sudah tua. Saya sudah punya istri yang (biar bagaimanapun) adalah istri terbaik yang pernah saya miliki. Cinta yang tercipta untuk saya, untukku. Saya punya anak termanis yang pernah saya punya.

Sekarang saya tidak lagi tukang ngebut. Bahkan untuk menambah kecepatan saja saya selalu teringat, ada seseorang yang sedang menunggu saya dirumah. Setia menunggu hingga saya kembali. Dan banyak hal-hal yang baru saya sadari bahwa sesungguhnya saya memang sudah bukan lagi saya yang dulu.

Hidup harus terus berjalan. Kenangan masa lalu, manisnya masa-masa muda, pahit dan getirnya, semua adalah kenangan. Seberapapun kerasnya usaha saya, kenangan itu tak pernah hilang. All is a moment to remember. By me, just by myself.

Let the pain for myself, neither my wife nor my childrens would taste the pain.
Sekarang adalah saatnya saya menatap masa depan. Bisa dibilang semua yang saya impikan sudah ada di depan mata. Istri terbaik dan penuh cinta, buah hati yang selalu memberikan saya sensasi menjadi orang tua, rumah, dan banyak hal. Saya cinta hidup saya yang sekarang. Saya percaya bahwa Allah memilihkan jodoh yang terbaik untuk hambaNya. Sesungguhnya walaupun menurut saya baik, namun hanya Allah yang tahu apa yang terbaik untuk saya.

Alhamdulillah...