Melihat sinetron-sinetron televisi Indonesia saat ini, saya benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana mungkin para penonton Indonesia yang katanya semakin cerdas itu, menonton sinetron-sinetron yang bermetamorfosa dari satu judul ke judul lain. Dengan bermacam konflik yang dibuat-buat, juga jalan cerita yang sesungguhnya dapat ditarik tambang merah (terlalu nyata untuk disebut sebagai benang merah) dari semua judul-judul itu. Bagaimana tidak, terkadang selain dari sisi cerita hampir sama, juga para pemainnya pun masih menggunakan muka-muka yang itu-itu saja. Perbedaan yang ada sangatlah remeh, misalnya tokoh utamanya dari semula berjualan koran, dalam cerita lain berjualan somay.
Hal tersebut masih diperparah dengan kebiasaan 'khas' Indonesia (apa iya?) yang latah dan suka aji mumpung. Latah, karena semua menawarkan sesuatu yang 'tiru-tiru' dari kesuksesan pihak lain. Lihat saja, saat 'musim'-nya maka semua sinetron diawali dengan kata Cinta, Cinta F****, Cinta B****, atau entah mungkin juga ada Cinta Bejo dan Cinta Paijo? Begitu juga saat musimnya adalah menggunakan nama tokohnya, maka semua judulnya menggunakan nama tokoh utama, mungkin ada sinetron berjudul 'Paimin' dan 'Paijo'?
Jika satu sinetron sudah dianggap 'sukses', maka diperpanjanglah sinetron tersebut dengan berbagai cara. Dibuatlah konflik-konflik benang kusut, jika perlu dibuat sinetron berseri, seri 1, seri 2, dan seterusnya. Yang lebih tidak tahu malu adalah sinetron-sinetron 'ramadhan' yang bahkan tak kunjung habis meskipun sudah hampir memasuki tahun baru. Jika diperhatikan, konflik yang 'dipaksakan' pun sebenarnya itu-itu saja. Orang kaya yang mencintai orang miskin, orang miskin yang ternyata anak orang kaya, perebutan harta kekuasaan, pokoknya mirip-mirip seperti itu.
Sinetron Indonesia jelas tidak menganut konsep random, atau setidaknya semua materi mempunyai kesempatan yang sama untuk tampil. Sinetron Indonesia juga tidak menganut konsep distribusi normal, dimana masalah yang paling rumit ditampilkan sedikit dan masalah-masalah biasa ditampilkan lebih besar porsinya. Bukan, bukan itu. Sinetron Indonesia (mungkin) menganut konsep terboboti (weighted). Semakin besar efeknya terhadap rating, maka akan semakin sering porsinya muncul di televisi.
Inilah sebabnya maka kita dapat memanipulasi E(x) lewat sinetron.
Dalam dunia statistika, kita mengenal konsep expectation value. Expectation value sering diterjemahkan sebagai nilai harapan, dan dituliskan sebagai E(x). Sesuai namanya, nilai harapan adalah menggambarkan harapan nilai yang dicapai dari sesuatu. Misalkan kita mempunyai distribusi binomial, dimana peluang suatu kejadian terjadi adalah sebesar p=0,4, dan binomial ini ada sebanyak n=30. Statistikawan mengerti jika rata-ratanya adalah sama dengan nilai harapannya, dimana untuk kasus ini adalah sebesar n kali p, tepatnya sebanyak 12. Ini berarti 12 dari 30 akan mengalami suatu kejadian, atau 2 dari 5 (mirip iklan bukan?). Jangan lupa, statistika mengagungkan konsep random serta distribusi normal.
Katakanlah kita definisikan x adalah jumlah wanita yang hamil di luar nikah, p adalah peluang wanita (belum menikah) untuk hamil diluar nikah, dan n adalah populasi wanita (belum menikah). Secara pasti kita tidak tahu, berapa jumlah x. Bahkan lewat sensus penduduk pun tidak mungkin (tanya kenapa?). Namun kita dapat memperkirakan dengan menggunakan E(x). Ini benar secara teori statistik. Namun sayangnya Indonesia mempunyai jauh lebih banyak penonton sinetron daripada statistisi.
Sinetron mengeksploitasi masalah/konflik rumit diberikan porsi maksimal, sehingga seolah-olah pemeran utama selalu ditimpa masalah pelik. Wajar saja, karena sinetron tidak menganut distribusi normal. Sinetron juga memblow-up masalah-masalah yang (kira-kira) menaikkan rating saja, bukan lagi random. Wanita hamil di luar nikah, ternyata adalah salah satu hal yang bisa menaikkan rating. Maka skenario tersebut kini sudah lumrah digunakan di sinetron Indonesia.
Dengan dihantam sinetron bertubi-tubi, maka bukan tidak mungkin akan muncul anggapan bahwa hamil di luar nikah sekarang adalah hal biasa. Atau dengan istilah lain, jika dulu hamil di luar nikah adalah kejadian tabu (sehingga nilai p kecil), maka sekarang hamil di luar nikah adalah biasa (nilai p sekarang lebih besar). Maka seolah-olah persepsi yang terbentuk yakni E(x) sekarang lebih besar daripada E(x) dulu. Ini hanya persepsi, sehingga belum tentu benar. Namun yakinlah E(x) mendatang pasti akan lebih besar, karena persepsi menipu tadi akan menjadikan kasus hamil di luar nikah menjadi hal yang tidak terlalu menyeramkan lagi.
Hamil di luar nikah, siapa takut? (kurang lebih, begitu..)
Mau...?

