Minggu, 04 Januari 2009

Antara Ujian, Belajar, dan OFAT

Besok adalah hari pertama Ujian Akhir Semester (UAS). Biasa, sejak jadi mahasiswa (lagi) kami semua jadi akrab (lagi) dengan yang namanya kalender akademik. Dan kebetulan materi ujian perdana besok adalah Rancangan Percobaan, yang sering disingkat kawan-kawan menjadi RanCob. Kebetulan tadi siang sudah cukup istirahat siang (walaupun tidak sebanyak teman sekamar saya, hehe) maka malam ini mata masih terbuka lebar-lebar sambil melihat teman sekamar tidur dengan nikmatnya. Terlebih sudah mendapat tambahan semangat dari istri dan anak di rumah. Koneksi 3G cukup mengobati rasa kangen walaupun belum menyembuhkan.

So, waktu yang ada saya manfaatkan untuk membaca-baca kembali tugas yang pernah diberikan oleh dosen saya (Drs. Kresnayana Yahya, MSc). Untuk membaca buku, rasanya hanya menjadi selingan saja, karena terlalu singkat waktu yang saya punyai saat ini. Plus, membaca-baca materi yang sudah didownload dari internet (kebetulan ada materi RanCob yang berbahasa Indonesia yang diupload oleh pengajar di universitas lain). Dan, saat suntuk datang seperti sekarang ini, saatnya nge-Blog!

Sambil membaca-baca dan melihat kawan-kawan belajar, saya tiba-tiba ingat akan penjelasan dosen saya mengenai OFAT. Mereka-mereka yang belajar sambil mempraktekkan OFAT, dan persis seperti apa yang dikatakan oleh dosen saya.

"OFAT, One-Factor-at-A-Time artinya dalam melakukan percobaan kita hanya mengamati pengaruh dari satu faktor saja. Kita mengabaikan faktor-faktor lain yang mungkin sebenarnya berpengaruh juga terhadap percobaan kita. Yang lebih berbahaya sesungguhnya karena kita tidak dapat memasukkan efek interaksi dalam percobaan kita. Padahal dalam kehidupan nyata, tidak mungkin OFAT itu terjadi. Kalaupun ada, ya sangat kecil. Dan mungkin saja kita memperoleh kesimpulan yang berbeda, yang justru menyesatkan. Ini bukan hanya dalam percobaan saja, dalam perilaku juga terkadang masih seperti itu."

Dalam menghadapi suatu ujian, untuk menghasilkan ujian yang sukses sebagai respon bergantung pada banyak faktor. Jika kita lihat lebih spesifik pada faktor yang berasal dari dalam diri, maka mungkin ada beberapa faktor (menurut saya!) yang mempengaruhi. Pertama, jelas sekali faktor penguasaan mata pelajaran. Kemudian ada faktor lain seperti IQ, kondisi tubuh, kondisi pikiran, dan mungkin masih ada faktor lain yang berpengaruh. Mengikuti ujian dengan sukses adalah merupakan kombinasi yang baik dari semua faktor tersebut, dimana masing-masing faktor tidak harus maksimal. Yang diperlukan adalah kombinasi terbaik dari semua faktor, sehingga menghasilkan respon surface yang baik pula, dan dapat kita raih puncaknya.

Jadi, sebenarnya teman saya yang tertidur dengan sedemikian nikmatnya juga berperan menjaga kondisi tubuhnya agar jangan sampai drop. Video Call saya dengan istri dan anak saya tadi sore juga merupakan usaha saya untuk menjaga kondisi pikiran agar rileks dan tidak terlalu terbebani. Kalau faktor IQ, yah.. masing-masing bisa mengukur sendiri lah. Dan faktor utama adalah penguasaan mata pelajaran yang dicapai dengan cara belajar, namun jangan sampai mengorbankan faktor lainnya. Belajar sampai optimal, itu adalah strategi terbaik daripada belajar sampai maksimal (dan mengorbankan lainnya, misalkan kondisi tubuh). Penganut OFAT akan mengagungkan faktor penguasaan mata pelajaran, dan akibatnya hanya mengejar faktor itu saja tanpa memperhitungkan faktor lain. Akibatnya justru respon yang diperoleh tidaklah seperti yang diharapkan.

Lha, sampai saat ini saja saya masih terjaga. Berarti saya OFAT dong?

Kebanyakan tidur sih tadi siang..

0 komentar: