Kamis, 29 Januari 2009

Gagal Saat POST Test ServeRAID-5i Pada Server IBM eServer xSeries 225

Kemarin, rencananya saya ingin cek komputer yang kata kawan saya bervirus. Ia mengeluh setiap membuat file autorun pasti tidak berhasil, dan dugaannya karena ada virus pada PC tersebut. Dari rumah saya sudah membawa beberapa amunisi untuk tujuan itu, well prepared lah. Namun ternyata kesibukannya membuatnya lupa akan keluhannya, dan ia terus bekerja. Otomatis saya urung melihat komputernya.

Melihat saya nganggur begitu, bos saya langsung 'memberi pekerjaan', hehe. Katanya server lama sekarang sudah tidak bisa dipakai lagi. Ternyata kami mendapat dropping server lagi dari pusat, masih menggunakan IBM. Katanya, sejak gempa (berarti tidak lama setelah saya tugas belajar) server tidak dapat hidup lagi. Wah, sia-sia dong upgrade kemarin. Lantas mau diapakan memori 2Gb dan harddisk 300 giga lebih?

Sebelumnya, bos saya dapat kabar bahwa di propinsi lain ada juga yang servernya rusak. Dan saat perlu penggantian komponen, biayanya sekitar 6 juta rupiah. Bos saya bingung juga membayangkan seandainya kasusnya sama dengan disini ("duit dari Hongkong?"). Kawan saya memberi informasi bahwa itu hanya karena harddisknya yang kendor. Jika dipasang agak dipaksa (sampai bunyi -JEGREK!-, begitu) katanya normal seperti biasa. Well, informasi tambahan untuk troubleshooting nih.

Saya nyalakan, memang benar server tidak bisa berfungsi. Masih dapat booting, namun selalu gagal saat POST test. Server kami adalah IBM, tepatnya model eServer xSeries 225. Dulu, biasanya server selalu dalam keadaan terkunci. Untungnya, pengunci pada server dulu sudah saya buka sebelum berangkat. Kalau tidak, wah terbayang deh pasti harus merusak casing untuk bisa utak-atik komponen.

So, berdasarkan informasi awal dari teman saya tadi saya troubleshooting berbasiskan harddisk. Terlalu panjang untuk diceritakan, yang pasti tidak sampai bunyi JEGREK!!! Hehe. Herannya, setelah berulangkali tetap saja selalu keluar pesan yang sama seperti tadi. Pesannya selalu
menunjuk pada ServeRAID Slot 4 yang error. Ini melunturkan cerita kawan saya tadi, dan saya justru mulai curiga pada Controller.

Dan akhirnya saya mempunyai dugaan baru, bukan tidak mungkin error yang dicari-cari adalah pada ServeRAID-5i Controller. Dipersempit lagi, dugaan saya bisa karena petir, listrik statis, atau karena salah posisi. Well, mungkin saja. Bengkulu (sebagian besar) adalah daerah pesisir pantai, bahkan bentuk propinsinya pun memanjang di sepanjang pantai. Disini, gempa adalah hal yang lumrah. Demikian juga dengan hujan badai, anginnya, petirnya, cukup beresiko.

Satu hal yang pasti, kalau memang karena petir ya pasrah sajalah. Pasti ganti komponen...

Setelah beberapa kali troubleshooting, termasuk discharge listrik statis yang mungkin ada, akhirnya cerita ini berakhir dengan bahagia. Server bisa berfungsi lagi, tampilan desktopnya bahkan sama persis seperti saat saya tinggalkan (jangan-jangan tidak pernah dipakai, hehe). Bukan apa-apa, masalahnya data-data banyak saya simpan disana (dan pada harddisk eksternal, namun hilang dicuri orang). Apalagi fasilitas redundant seingat saya tidak digunakan, supaya kapasitas harddisk menjadi besar.

Nampaknya benar dugaan saya, karena listrik statis DAN gempa...

Selasa, 27 Januari 2009

Utak-Atik Setting (Sederhana) DWL-G700AP

Saat ini saya sedang berada di Bengkulu, di rumah bersama istri tercinta dan buah hati tersayang. Karena terbiasa menjalani tugas belajar, waktu yang ada kini terasa sangat berharga untuk dihabiskan bersama keluarga. Liburan yang lumayan lama, tiga minggu, membuat saya (dan teman-teman) tak perlu berpikir panjang untuk pulang kampung. Memang kebersamaan
adalah sesuatu yang tak ternilai harganya, meskipun terkadang merepotkan. Seperti sekarang, baru saja saya selesai memasang tombol [Shift] saya yang mental gara-gara direcoki buah hati tersayang. Asal jangan sampai mematikan kreativitas anak.

Dengan intro seperti itu, jangan bayangkan selama liburan saya menikmati bercengkrama dengan keluarga dirumah setiap saat. Selama liburan ini, saya justru... ikut ngantor. Maklum, jarak rumah ke kantor tidak terlampau jauh. Lagipula, selama istri kerja maka anak saya dititipkan ke tetangga. Jadi mau apa saya dirumah sendiri saja? Selama beberapa hari dicoba 'ngendon' dirumah, toh lebih banyak waktu bengongnya.

Kembali ke kantor, maka kembali utak-atik masalah komputer, jaringan, dan sebagainya. Setting printer, scan virus, program publikasi elektronik, termasuk wireless. Ya, kantor saya baru saja instalasi VPN, dan kemudian ada inisiatif untuk instalasi Wireless LAN. Well, soal scan
virus saya masih berhutang pada teman nih. Ada satu komputer yang tidak mempan menggunakan PCMAV, tapi lebih lanjutnya nanti saja.

Saat saya kesana, instalasi sudah selesai secara fisik, semua sudah terpasang secara rapi dan profesional oleh kedua kawan saya (mas Ari dan Tama). Anyway, saat diutak-atik ternyata setting yang digunakan adalah default bawaan. Access Point menggunakan D-Link DWL-G700AP. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kondisi ini, hanya saja settingan bawaan
adalah settingan yang 'cari aman' sehingga tidak mengoptimalkan bandwith maupun kapasitas jaringan.

So, setelah beberapa kali reset dan setelah beberapa kali utak atik bersama mas Ari, akhirnya AP dipecah menjadi dua Wireless Network (kenapa tidak menggunakan modus repeater? Atau, kenapa tidak mengaktifkan fasilitas roaming? Yah, singkatnya... sepakatnya begitu). Untuk memudahkan, IP AP diganti ke Network Class yang sesuai dengan jaringan. Wizard yang ada sudah sangat membantu mempersingkat waktu setting.

Basically, stepnya simpel saja:

  1. Setting IP default DWL-G700AP adalah 192.168.0.50, maka IP komputer harus dirubah dalam satu Class (IP 192.168.0.x dan Netmask 255.255.255.0).
  2. Browsing ke http://192.168.0.50/ dan login sebagai admin.
  3. Gunakan Wizard untuk setting password (menurut saya sih, tidak perlu), SSID, enkripsi, dan Channel yang digunakan (bisa auto, tapi saya lebih percaya manual).
  4. Kemudian manual setting parameter LANnya (IP, Netmask, Gateway, dan DNS). Jika perlu, sekalian setting DHCP Server (saya lebih suka static).
  5. Setelah inisiasi ulang (otomatis) maka AP sudah disetting.

Pengalaman saya sih, ada beberapa yang perlu diperhatikan. Pertama, saat akan reset AP tekan tombol reset kurang lebih 30 detik (sepuluh detik ternyata terkadang belum cukup), apalagi jika baru pertama kali reset. Jangan remehkan masalah reset, hehe, saya sempat juga mengalami trouble saat reset Access Point D-Link DWL-G700AP tersebut. Kemudian sepertinya lebih bijaksana jika setting AP menggunakan kabel jaringan langsung dari laptop/PC kita. Sometimes, jika lewat wireless updating terkadang gagal. Ini terutama saat kita mengganti IP AP. Satu lagi, perhatikan guideline saat memilih channel.

Anyway, saat dipasang oleh kawan saya, karena satu dan lain hal salah satu AP direset kembali. Sepertinya masalahnya adalah crimping yang tidak sempurna, maka sedang dicarikan kabel kembali (lumayan panjang juga, sekitar 20 meter). Karena tempat, maka saya setting via wireless. Jalan juga sih, tapi saya agak curiga dengan setting IPnya karena hanya via wireless. Yah, semoga saja tidak menjadi masalah.

Tinggal scan virus nih besok…

Senin, 19 Januari 2009

Plurk dan Kronologger, Sebuah Fenomena Marketing

Saat ini, selain blog (Blogger, Wordpress, dsb), Friendster dan Facebook, ada satu lagi fenomena yang mulai meluas di dunia maya. Plurk.com, sebuah situs yang berbasiskan sebuah komunitas mulai mendapatkan tempat di hati para netter di seluruh dunia. Termasuk saya sendiri, yang sekarang sudah menjadi salah satu anggota Plurk.

Tidak seperti Friendster, atau Facebook, pada Plurk sesungguhnya layanan yang ditawarkan sungguh jauh lebih simpel. Pada Friendster atau Facebook, kita membentuk komunitas yang umumnya berisi teman-teman kita (atau setidaknya sekarang menjadi teman kita). Dalam penggunaannya, kita dapat kustomisasi dengan berbagai macam pernak-pernik layaknya menghias sebuah web. Banyak fasilitas yang disediakan untuk kustomisasi.

Pada Plurk, kita masih berbasiskan komunitas, namun dengan format yang lebih simpel. Kita cukup mengetikkan kalimat-kalimat yang menggambarkan kondisi 'terkini' kita. Kustomisasi yang ada otomatis lebih terbatas, namun kita dapat menyisipkan Plurk kita ke halaman web lainnya.

Bagi yang 'cinta produk dalam negeri' pasti sudah pernah tahu tentang layanan Kronologger. Sebetulnya Kronologger dan Plurk mempunyai ide yang sama persis, bahkan kalau tidak salah Kronologger justru ada terlebih dahulu dengan nama Kronologis. Namun gaung Kronologger dan Plurk jelas berbeda, dan ini dikarenakan faktor marketing semata.

Pada Plurk maupun Kronologger, kita sebetulnya hanya mengupdate status terkini kita berupa satu (atau dua, jika perlu) kalimat yang representatif. Kemudian setelah beberapa lama kita akan mempunyai beberapa posting yang tersusun berdasarkan waktu. Susunan berdasarkan
waktu ini mirip seperti kronologis suatu kejadian (mengerti kan, darimana asal nama Kronologger?). Pada akhirnya kita dapat menyisipkan Plurk atau Kronologger kita ke halaman web lainnya.

Ini membuktikan bahwa faktor marketing tidak bisa dianggap remeh. Sebagus apapun, pasti masih kalah dibandingkan dengan yang menggunakan teknik marketing yang matang.

Rasanya kok.. mirip pilkada kita ya?

Minggu, 04 Januari 2009

Antara Ujian, Belajar, dan OFAT

Besok adalah hari pertama Ujian Akhir Semester (UAS). Biasa, sejak jadi mahasiswa (lagi) kami semua jadi akrab (lagi) dengan yang namanya kalender akademik. Dan kebetulan materi ujian perdana besok adalah Rancangan Percobaan, yang sering disingkat kawan-kawan menjadi RanCob. Kebetulan tadi siang sudah cukup istirahat siang (walaupun tidak sebanyak teman sekamar saya, hehe) maka malam ini mata masih terbuka lebar-lebar sambil melihat teman sekamar tidur dengan nikmatnya. Terlebih sudah mendapat tambahan semangat dari istri dan anak di rumah. Koneksi 3G cukup mengobati rasa kangen walaupun belum menyembuhkan.

So, waktu yang ada saya manfaatkan untuk membaca-baca kembali tugas yang pernah diberikan oleh dosen saya (Drs. Kresnayana Yahya, MSc). Untuk membaca buku, rasanya hanya menjadi selingan saja, karena terlalu singkat waktu yang saya punyai saat ini. Plus, membaca-baca materi yang sudah didownload dari internet (kebetulan ada materi RanCob yang berbahasa Indonesia yang diupload oleh pengajar di universitas lain). Dan, saat suntuk datang seperti sekarang ini, saatnya nge-Blog!

Sambil membaca-baca dan melihat kawan-kawan belajar, saya tiba-tiba ingat akan penjelasan dosen saya mengenai OFAT. Mereka-mereka yang belajar sambil mempraktekkan OFAT, dan persis seperti apa yang dikatakan oleh dosen saya.

"OFAT, One-Factor-at-A-Time artinya dalam melakukan percobaan kita hanya mengamati pengaruh dari satu faktor saja. Kita mengabaikan faktor-faktor lain yang mungkin sebenarnya berpengaruh juga terhadap percobaan kita. Yang lebih berbahaya sesungguhnya karena kita tidak dapat memasukkan efek interaksi dalam percobaan kita. Padahal dalam kehidupan nyata, tidak mungkin OFAT itu terjadi. Kalaupun ada, ya sangat kecil. Dan mungkin saja kita memperoleh kesimpulan yang berbeda, yang justru menyesatkan. Ini bukan hanya dalam percobaan saja, dalam perilaku juga terkadang masih seperti itu."

Dalam menghadapi suatu ujian, untuk menghasilkan ujian yang sukses sebagai respon bergantung pada banyak faktor. Jika kita lihat lebih spesifik pada faktor yang berasal dari dalam diri, maka mungkin ada beberapa faktor (menurut saya!) yang mempengaruhi. Pertama, jelas sekali faktor penguasaan mata pelajaran. Kemudian ada faktor lain seperti IQ, kondisi tubuh, kondisi pikiran, dan mungkin masih ada faktor lain yang berpengaruh. Mengikuti ujian dengan sukses adalah merupakan kombinasi yang baik dari semua faktor tersebut, dimana masing-masing faktor tidak harus maksimal. Yang diperlukan adalah kombinasi terbaik dari semua faktor, sehingga menghasilkan respon surface yang baik pula, dan dapat kita raih puncaknya.

Jadi, sebenarnya teman saya yang tertidur dengan sedemikian nikmatnya juga berperan menjaga kondisi tubuhnya agar jangan sampai drop. Video Call saya dengan istri dan anak saya tadi sore juga merupakan usaha saya untuk menjaga kondisi pikiran agar rileks dan tidak terlalu terbebani. Kalau faktor IQ, yah.. masing-masing bisa mengukur sendiri lah. Dan faktor utama adalah penguasaan mata pelajaran yang dicapai dengan cara belajar, namun jangan sampai mengorbankan faktor lainnya. Belajar sampai optimal, itu adalah strategi terbaik daripada belajar sampai maksimal (dan mengorbankan lainnya, misalkan kondisi tubuh). Penganut OFAT akan mengagungkan faktor penguasaan mata pelajaran, dan akibatnya hanya mengejar faktor itu saja tanpa memperhitungkan faktor lain. Akibatnya justru respon yang diperoleh tidaklah seperti yang diharapkan.

Lha, sampai saat ini saja saya masih terjaga. Berarti saya OFAT dong?

Kebanyakan tidur sih tadi siang..